Jaga Pertumbuhan Kinerja, Timah (TINS) Pacu Kontribusi Anak Usaha
JAKARTA, investor.id - Indonesia melalui PT Timah Tbk (TINS) merupakan produsen sekaligus eksportir kedua terbesar komoditas timah dunia. Sayangnya produksi TINS sedang mengalami tren menurun sejak tahun 2021. Namun kondisi tersebut tak menyurutkan kemampuan PT Timah Tbk untuk mencatat kinerja terbaik.
Pada kuartal I-2022, Timah mencatat pendapatan sebesar Rp4,3 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 80% dibanding kuartal I-2021. Pendapatan tersebut membawa dampak pada kenaikan laba bersih yang signifkan dari Rp10 miliar di kuartal I-2021 menjadi Rp 601 miliar di kuartal I-2022.
Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Abdullah Umar Baswedan, melesatnya kinerja Timah terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas maupun bisnis non-timah yang digeluti Perseroan. Abdullah menyampaikan, PT Timah Tbk saat ini memiliki 4 lini bisnis. Lini bisnis utama tentu saja penambangan yang terintegrasi, mulai dari kegiatan eksploirasi, penambangan dilanjutkan proses peleburan dan pemurnian mencapai dengan kadar 99,99% hingga menjadi logam baru yang dapat diekspor.
“Sekitar 95% produksi kami ekspor ke Asia, Eropa dan Amerika Serikat,” kata Abdullah, saat Interviu Penjurian Investor Award, awal Juli 2022. Lini bisnis kedua perseroan adalah hilirisasi melalui anak perusahaannya yang memproduksi timah solder dan timah chemical.
Sementara lini bisnis ketiga perseroan menurutnya kegiatan penambangan non-timah yaitu, tambang batu bara dan nikel yang dikelola oleh anak usaha PT Tanjung Alam Jaya dan Timah Investasi Mineral. Sementara di lini bisnis keempat, PT Timah Tbk menggarap bisnis properti, pembuatan kapal, agrobisnis hingga perusahaan trading melalui anak perusahaan untuk marketing pasar timah di London yaitu, Timah Indometal London. “Kami juga pernah punya rumah sakit, tapi saat ini sudah didevestasi ke anak usaha PT Pertamina (Persero),” imbuhnya.
Dari anak-anak usaha non-timah tadi, Perseroan menikmati pertumbuhan kontribusi. Disampaikan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah Tbk, Fina Eliani, kontribusi anak usaha PT Timah yang semula hanya 5%-10%, maka pada tahun tahun 2022 kontribusi tersebut diperkirakan meningkat menjadi 20% terhadap laba bersih perusahaan.
Sementara untuk komoditas timah sendiri, Abdullah mengatakan, keberadaan produk perusahaan sudah dikenal secara global. “PT Timah Tbk memiliki produk yang diakui secara internasional dengan brand “Bangka Tin”, “Kundur Tin” dan “Mentok Tin” yang resmi terdaftar di London Metal Exchange (LME),” ujar Baswadan.
Adapun produksi bijih timah kuartal I tahun 2022 sebesar 4.508 ton atau mengalami penurunan dibanding kuartal yang sama tahun 2021. Demikian juga dengan produksi logam timah yang sebesar 4.820 MT di kuartal I-2022 juga mengalami penurunanan sekitar 8% dibanding kuartal yang sama tahun 2021. Penurunan produksi membuat penjualan logam timah mengalami penurunan menjadi sebesar 5.703 MT di kuartal I-2022. Beruntung penurunan produksi terbantu oleh harga jual rata-rata logam dengan kenaikan sekitar 76% dibanding periode yang sama tahun 2021.
Terkait jumlah cadangan, Timah berupaya menjaganya, dari sisi sumber daya pada tahun 2021, Timah tercatat memiliki sekitar 919 ribu ton sumber daya, terdiri dari 542 ribu ton yang berlokasi di darat dan sekitar 466 ribu ton di laut. Sementara itu untuk cadangan timah itu di 2021 tercatat sebesar 300 ribu ton atau naik 6% dibanding tahun sebelumnya, terdiri dari 279 ribu ton di laut dan sekitar 20 ribu ton di darat. “Untuk mengantisipasi turunnya produksi di masa datang, perseroan terus mencari sumber-sumber cadangan baru agar bisnis ini berumur lebih panjang (life of mind),” imbuh Abdullah.
Lebih lanjut Abdullah mengatakan, saat ini Timah memiliki Izin Usaha Pertambangan seluas 473 ribu hektare. Dalam mengoptimalkan area pertambangan yang dimiliki, Timah menjalankan kemitraan dengan masyarakat sekitar untuk yang berlokasi di darat.
“Sumber timah kita berada di alluvial, jadi tersebar sangat luas, sehingga kita tidak bisa melakukan penambangan sendiri, tapi bermitra dengan masyarakat,” ujarnya. Namun bermitra dengan banyak pihak memunculkan tantangan tersendiri dari sisi pengawasan, agar hasil tambang tidak keluar secara illegal. Sementara untuk penambangan yang berlokasi di laut, Timah bermitra dengan pihak ketiga.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





