Jumat, 15 Mei 2026

Saham GOTO Koreksi, Apakah Penurunan Bisa Berlanjut?

Penulis : Parluhutan Situmorang
1 Aug 2022 | 17:18 WIB
BAGIKAN
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Foto: Perseroan)
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Foto: Perseroan)

JAKARTA, Investor.id - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali turun hingga mencapai level terendah baru dalam dua bulan terakhir. Penurunan tersebut mengakibatkan kapitalisasi pasar (market cap) saham GOTO menjadi Rp 339 triliun atau berada di posisi kelima.

Berdasarkan data, kapitalisasi pasar terbesar peringkat pertama diduduki saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 915 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBR) sebanyak Rp 654 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di posisi ketiga Rp 426 triliun, dan keempat PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 368 triliun.

Hari ini, saham GOTO ditutup terkoreksi Rp 10 (3,38%) menjadi Rp 286. Saham ini bergerak dalam rentang Rp 284-302 pada Senin (1/8). Penurunan saham GOTO tersebut menjadi pemberat utama pergerakan indeks pada perdagangan di awal Agustus ini.

ADVERTISEMENT

Lalu, bagaimana prospek GOTO ke depan? Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis menyebutkan, terlalu besar bagi GOTO untuk gagal. Apalagi setelah perseroan memiliki 65 juta pengguna yang unik. Perseroan juga didukung mitra pengemudi yang banyak yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi Indonesia. “Hal tersebut membuat investor memberikan valuasi saham GOTO lebih premium dibandingkan e-commerce maupun ride hailing lain di Indonesia,” tulisnya dalam riset.

Perseroan juga didukung upaya gencar menerapkan hiperlokal, termasuk integrasi platform dalam ekosistemnya. GOTO juga berupaya merangsek kota-kota tier kedua yang berpotensi mendongkrak GTV perseroan ke depan.

Dengan berbagai upaya yang sedang dilaksanakan perseroan, menurut dia, saham GOTO layak untuk direkomendasikan beli dengan target harga Rp 420 per saham.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan lonjakan pendapatan GOTO menjadi Rp 7,04 triliun tahun ini dan diharapkan melesat menjadi Rp 11,26 triliun pada 2023, dibandingkan tahun lalu Rp 4,53 triliun. Sedangkan rugi bersih diperkriakan meningkat menjadi Rp 22,59 triliun tahun ini dan turun menjadi Rp 21,42 triliun pada 2023, dibandingkan rugi bersih tahun lalu Rp 21,22 triliun.


 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 48 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia