Jumat, 15 Mei 2026

Kembali Turun di Bawah Rp 10.000, Bagaimana Prospek Saham Bank Jago (ARTO)?

Penulis : Parluhutan Situmorang
18 Aug 2022 | 13:24 WIB
BAGIKAN
Karyawan melintas di depan logo Bank Jago di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Karyawan melintas di depan logo Bank Jago di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

JAKARTA, Investor.id - Harga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) menunjukkan tren penurunan dalam lima hari perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan tersebut membuat level saham ARTO kembali jatuh di bawah Rp 10.000.

Berdasarkan data, harga saham ARTO mulai menunjukkan penurunan sejak 11 Agustus 2022. Saham bank digital itu turun Rp 200 menjadi Rp 10.775. Penurunan berlanjut hingga akhir sesi I, Kamis (18/8/2022), dengan pelemahan Rp 350 (3,6%) menjadi Rp 9.375.

Lalu, bagaimana prospek saham bank digital yang dikuasai Jerry Ng, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dan GIC ini? Mandiri Sekuritas dalam riset terakhirnya masih mempertahankan rekomendasi beli saham ARTO dengan target harga Rp 18.000.

ADVERTISEMENT

“Bank Jago berhasil menggabungkan pertumbuhan bisnis dan profitabilitas hingga kuartal II-2022 dengan baik, sehingga terapai laba bersih Rp 29 miliar pada semester I-2022. Perseroan juga berhasil mendongkrak kredit sebesar 3,3 kali secara YoY. Namun, kejatuhan saham emiten teknologi global menjadi sentimen negatif saham ini ditambah ketatnya persaingan dari bank konvensional,” tulis tim riset Mandiri Sekuritas.

Mandiri Sekuritas memberikan catatan positif atas pencapaian Bank Jago pada kuartal II-2022. Di antaranya, pertumbuhan kredit mencapai 18% dengan terjadi peningkatan penyaluran ke sektor usaha kecil menengah.

Perseroan juga mencatatkan peningkatan simpanan mencapai 45% pada kuatal II-2022 menjadi Rp 6,1 triliun. Hal ini membuat rasio CASA perseroan meningkat menjadi 63% sampai semester I-2022.

Tidak hanya itu, Bank Jago juga berhasil menaikkan margin keuntungan bersih (NIM) menjadi 10,7% sampai semester I-2022, dibandingkan periode sama tahun lalu 6,5%. Kenaikan dipengaruhi atas pertumbuhan penyaluran kredit pada sektor yang menawarkan tingkat keuntungan baik.

Sedangkan NPL perseroan meningkat dari 1,5% pada kuartal I-2022 menjadi 2,7% pada kuartal II-2022. Biaya kredit juga naik dari 2,8% menjadi 5,4% pada semester I-2022.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia