Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pesawat Garuda Indonesia (GIAA). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/ama/18)

Pesawat Garuda Indonesia (GIAA). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/ama/18)

Dapat Momentum, Garuda (GIAA) Bersiap Kerahkan Banyak Pesawat

Rabu, 24 Aug 2022 | 20:07 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Beberapa indikator positif menunjukkan Indonesia bergerak menuju pemulihan ekonomi. Pandemi Covid-19 yang berangsur-angsur reda dan pertumbuhan ekonomi yang menyentuh 5,44% dinilai menjadi momentum tepat bagi PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) untuk bangkit.

Hal itu disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dalam konferensi pers, Rabu (24/8/2022), mengenai kondisi terkini Garuda Indonesia usai melewati proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

“Inilah momentum yang baik bagaimana recovery Covid sudah terjadi dan pertumbuhan ekonomi kita sudah 5,44%. Makanya, kita sampaikan kepada presiden dan para menteri, Garuda setelah restrukturisasi PKPU akan mulai menambah jumlah pesawat kembali,” terangnya.

Erick menargetkan, hingga akhir 2022, jumlah armada maskapai penerbangan nasional tersebut bakal bertambah menjadi 120 pesawat dari jumlah saat ini sekitar 61 pesawat yang terdiri atas pesawat Garuda dan Citilink.

Advertisement

Baca juga: Tekan Harga Tiket Pesawat, Ini Langkah Konkret Garuda (GIAA)

Penambahan armada tersebut, sambung Erick, juga sejalan dengan instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk terus menekan harga tiket pesawat supaya lebih murah. Karena itu, dengan menjaga keseimbangan ini diharapkan dapat memperbaiki harga tiket nasional sekaligus memastikan agar harga sewa pesawat sesuai dengan harga pasar.

“Jadi, kita sampaikan Alhamdulillah, terima kasih atas dukungan pemerintah dan DPR dimana kita sudah berhasil merestrukturisasi Garuda melalui PKPU sehingga Garuda bisa kembali bergerak secara korporasi lebih sehat,” ucapnya.

Betapa tidak, setelah melewati proses PKPU yang cukup panjang, emiten berkode saham GIAA ini bakal memperoleh suntikan dana berupa penyertaan modal negara (PMN) dalam waktu dekat. Menurut Erick, injeksi kapital itu sebetulnya sudah diputuskan pemerintah sejak satu setengah tahun lalu atau sebelum pandemi Covid terjadi.

Menyangkut hal lain, Erick menuturkan, dalam pertemuannya bersama Presiden Jokowi, dirinya juga membahas mengenai progres proyek MRT, LRT, dan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Khusus untuk proyek kereta cepat, bos Kementerian BUMN itu mengungkapkan, kereta cepat akan mulai datang ke Indonesia pada September 2022 untuk selanjutnya melewati uji coba dan ditargetkan dapat beroperasi pada Juni 2023.

Baca juga: AirAsia Indonesia (CMPP) Pendapatannya Terbang Tinggi, Bisnis Maskapai Pulih?

“Sementara untuk proyek LRT dan MRT, kita tahu LRT sudah ditambah kereta di luar yang sudah dibangun KAI. Ditambah, proyek MRT yang kemarin presiden sampaikan, berdasarkan hasil pertemuan dengan PM Jepang, Jepang berkomitmen untuk membantu pendanaan dan pembangunan MRT secara berkelanjutan,” bebernya.

Dengan demikian, Erick menegaskan, semua proyek infrastruktur transportasi tersebut bakal menjadi ekosistem transportasi yang terintegrasi dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi baru.

Pasalnya, konektivitas antara Jakarta dan Jawa Barat perlu dibangun karena kawasan Jawa Barat memiliki potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak kalah penting dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain.

Terlebih, Jawa Barat kini sudah memiliki Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati. Dari hasil koordinasi dengan para menteri, Bandara Kertajati ditetapkan sebagai salah satu pusat bandara untuk kargo yang selama ini potensinya jarang dilihat.

“Artinya, ketika ada Patimban, ada kargo. Lalu, kami juga baru saja ditugaskan presiden untuk membangun Kawasan Industri (KI) Subang yang merupakan satu kawasan menyeluruh menjadi konektivitas yang terintegrasi antara logistik dan manusianya,” tutup Erick.

Baca juga: Ada Pemilik Lion Air, Rusdi Kirana di Perayaan Satu Tahun Super Air Jet, Pertanda Apa?

Menanggapi soal arahan presiden untuk menekan harga tiket pesawat, secara terpisah, Direktur Utama Garuda Indonesia (GIAA) Irfan Setiaputra menambahkan bahwa pihaknya masih terus menunggu dan mengamati harga avtur. “Kita tunggu dan amati pergerakan harga avtur,” ujar Irfan kepada Investor Daily, Selasa (23/8).

Kalaupun GIAA memberlakukan perubahan tarif, menurut Irfan, keputusan tersebut tidak berhubungan dengan PMN yang diberikan pemerintah kepada perseroan. “Jadi, jangan berandai-andai dulu karena kami masih melihat perkembangannya,” tambahnya.

Di luar itu, Irfan mengaku bahwa perseroan terus berupaya untuk menekan harga tiket di antaranya dengan cara merestorasi sekitar 60 pesawat Garuda dan memberikan banyak promosi. “Jadi, di samping melakukan restorasi, plus kita kasih banyak promosi,” tandas Irfan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com