Jumat, 15 Mei 2026

Produksi Emas Meningkat, Pendapatan Bumi Minerals (BRMS) Bisa Naik Dua Kali Lipat

Penulis : Jauhari Mahardhika
13 Sep 2022 | 18:45 WIB
BAGIKAN
Ketua Pelaksana CSA Award, Hariyajid Ramelan (kiri) dan Direktur & Chief Investor Relations Bumi Resources Minerals (BRMS), Herwin Hidayat (kanan) dalam program Unboxing Emiten yang ditayangkan melalui Youtube CSA_Awards.
Ketua Pelaksana CSA Award, Hariyajid Ramelan (kiri) dan Direktur & Chief Investor Relations Bumi Resources Minerals (BRMS), Herwin Hidayat (kanan) dalam program Unboxing Emiten yang ditayangkan melalui Youtube CSA_Awards.

JAKARTA, investor.id – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menargetkan pada Oktober tahun ini, pabrik kedua perseroan di Palu yang akan memproduksi bijih emas 4.000 ton per hari siap beroperasi. Ini akan meningkatkan hasil pendapatan Bumi Minerals pada kuartal akhir 2022.

Demikian diungkapkan Herwin Hidayat, direktur & chief investor relations Bumi Resources Minerals, dalam program Unboxing Emiten yang ditayangkan melalui Youtube CSA_Awards, baru-baru ini.

Herwin menegaskan, dengan beroperasinya pabrik kedua, bakal terjadi peningkatan produksi dalam 3 bulan di tahun ini. Namun, menurut dia, produksi itu belumlah maksimal, karena harus melalui berbagai uji produksi sebelum digunakan secara maksimal. “Kami yakin pada 2023 sudah bisa full produksi dan dampaknya akan terasa pada keuangan perseroan pada akhir 2023,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

Seperti diketahui, Bumi Minerals pada akhir tahun lalu dengan satu pabrik, hanya memproduksi emas 139 kg atau naik dari tahun 2020 yang hanya 73 kg. Dengan volume produksi sebanyak itu, emiten berkode saham BRMS ini berhasil membukukan pendapatan US$ 10,5 juta, naik signifikan dibandingkan tahun 2022 yang hanya US$ 8,3 juta. Perolehan tersebut turut mendongkrak laba BRMS menjadi US$ 69 juta pada 2021 dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$ 4 juta.

Dengan demikian, operasional pabrik kedua yang akan memproduksi 4.000 ton bijih emas per hari, dapat menaikkan pendapatan perseroan hingga dua kali lipat.

Herwin menggambarkan, jika dari setiap ton bijih emas diproduksi menghasilkan 1,5 gram, maka bisa dibayangkan berapa besar jika dari 4.000 ton per hari. Dengan asumsi 80% saja dari bijih emas yang diproduksi menghasilkan emas murni, maka selama setahun diperkirakan bakal menghasilkan 35.000 ons emas.

“Kalikan saja jika harga emas US$ 1.700 per ons, maka itulah penjualan emas dari pabrik baru,” ungkap Herwin menjawab pertanyaan peserta online program Unboxing Emiten.

BRMS merupakan perusahaan publik yang listing di BEI pada 2010. Perseroan bergerak di bidang pertambangan sumber daya mineral berupa emas, tembaga, seng, dan timah hitam.

Menurut Herwin, pada tahun 2020, perseoran untuk pertama kalinya berhasil memproduksi dan menjual emas. “Awal produksi hanya 500 ton bijih per hari dan setiap kuartal terus meningkat. Selain tonase bijih emas bertambah, kandungan emas murninya makin tinggi dan meningkat,” kata Herwin, saat menjawab pertanyaan dari moderator Haryajid Ramelan, yang juga analis senior.

BRMS telah menetapkan, hingga tahun 2025, pihaknya akan terus fokus pada eksplorasi dan produksi pertambangan emas. Bahkan akan terus menambah pabrik di Palu dan Gorontalo, serta mengelola proyek tambang emas di Kerta Provinsi Banten dengan cadangan emas yang cukup besar sekitar 17 juta ton bijih emas dan kadar emas cukup baik sekitar 1,1 gram emas dari tiap satu ton bijih emas.

Selain pertambangan emas di Palu, Gorontalo, dan Banten, BRMS juga mengelola tambang seng dan timah hitam di Sumatra. Dari semua proyek tambang yang dikelola itu, perseroan rata-rata telah mengantongi izin hak pengelolaan dari pemerintah selama 30 tahun.

Dengan besarnya potensi di sektor pertambangan emas, logam, seng, dan timah hitam, BRMS telah memperoleh kepercayaan dari investor baik lokal maupun asing. Perseroan pun meningkatkan pengelolaan manajemen profesional dengan mengangkat Agus Projosasmito sebagai direktur utama BRMS dalam RUPSLB awal tahun ini. Selain dikenal sebagai investment banker, Agus juga orang yang kerap menangani bisnis pertambangan, seperti Newmont, Medco, dan lain-lain.

Sementara itu, Haryajid Ramelan menilai bahwa dengan potensi tambang emas yang besar, pengelolaan keuangan solid, dan menajemen profesional, tidak salahnya investor mengintip saham BRMS untuk diajdikan portofolio jangkan menengah-panjang.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia