Jumat, 15 Mei 2026

Sampoerna Agro (SGRO) Yakin Produksi CPO Bisa Capai Peak-nya

Penulis : Thresa Sandra Desfika
16 Sep 2022 | 17:37 WIB
BAGIKAN
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). (Perseroan)
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). (Perseroan)

JAKARTA, investor.id - PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) menganggarkan capital expenditure (capex) Rp 400-600 miliar pada tahun ini. Direktur Keuangan SGRO Heri Harjanto menjelaskan, anggaran capex tahun ini lebih besar dari tahun 2021.

“Kita ketahui 2020, 2021 karena ada pengaruh pandemi memang beberapa kegiatan itu agak tertunda. Kita akan coba start di tahun 2022 ini. Kalau kita lihat alokasinya itu sebagian besar di kita punya fix aset sekitar 52% tapi juga 48% di plantation aset. Termasuk sebagai program kami untuk memperbaiki infrastruktur di kebun karena kita ketahui supply chain logistik sangat memegang peranan penting dalam bisnis ini,” kata dia dalam Public Expose Live 2022 SGRO, Jumat (16/9/2022).

Menurut dia, realisasi capex semester I ini sekitar Rp 162 miliar dan sebagian besar 70% untuk capex di plantation asset.

ADVERTISEMENT

“Kita harapkan kita dapat catch up di semester kedua ini sehingga kita ketahui capex ini sangat penting,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama SGRO Budi Setiawan Halim menyebutkan, dengan kondisi curah hujan yang sangat baik di dalam dua tahun terakhir pihaknya melihat untuk tahun depan produksi akan lebih baik dibandingkan tahun 2022.

“Sedangkan sedikit gambaran untuk tahun 2022, kita melihat bahwa memang di awal tahun cuaca sempat kurang bagus curah hujan sangat tinggi. Akan tetapi di semester kedua ini kami melihat bahwa  produksi akan mencapai peak-nya sehingga hasil panen akan jauh lebih tinggi dibandingkan semester I,” papar Budi.

“Jadi bisa kita estimasi sampai dengan akhir tahun ini nanti untuk full year kita perkirakan produksi CPO  tahun 2022 ini akan bertumbuh di kisar 4-5% dibandingkan tahun 2021 yang lalu,” imbuhnya.

Perseroan membukukan total penjualan Rp 2,6 triliun pada semester I-2022, atau sedikit menurun 2% yoy dari semester I-2021/ Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari CPO, penyumbang pendapatan terbesar. Pendapatan dari CPO turun 6% yoy akibat volume penjualan CPO yang lebih rendah. Di sisi lain, pada inti sawit (PK) mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 32% yoy, ditopang oleh penguatan harga rata-rata PK.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 45 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia