Sido Muncul (SIDO) Percepat Eksekusi Strategi Pendongkrak Kinerja
JAKARTA, investor.id – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) tengah membidik pangsa pasar Ghana, Kamerun, Kenya, Vietnam, dan Tiongkok sebagai negara tujuan ekspor produk-produk herbal dan suplemen. Upaya ini diyakini dapat memacu kinerja perseroan yang terkoreksi secara tahunan (yoy) pada semester I-2022.
“Untuk mendukung kinerja Sido Muncul di sisa akhir tahun ini, kami akan mempercepat eksekusi strategi inisiatif ekspor, salah satunya mempercepat registrasi produk dan peluncurannya. Kami akan meluncurkan produk Tolak Angin di Malaysia serta produk minuman STMJ di Nigeria tahun ini,” ujar Investor Relation Sido Muncul Billy Utama pada Public Expose Live 2022, Jumat (16/9/2022).
Sedangkan untuk meningkatkan kinerja segmen herbal dan suplemen di Indonesia, Sido Muncul memilih fokus pada program pemasaran dan promosi yang secara langsung memberikan stimulan bagi pelanggan, baik melalui kanal penjualan luring maupun daring.
Dalam enam bulan pertama tahun ini, penjualan perseroan turun 2,6% menjadi Rp 1,61 triliun dari Rp 1,65 triliun pada periode sama tahun lalu. Lebih rinci, kinerja penjualan segmen herbal dan suplemen turun 6,9% (yoy). Namun sebaliknya, segmen food and beverages serta pharmaceutical naik masing-masing 3,5% dan 17% dibandingkan semester I-2021.
Sepanjang Januari-Juni 2022, SIDO juga mencatatkan penurunan pada laba operasi sebesar 10% dari periode sama tahun lalu. Laba bersih perseroan tercatat turun 11% (yoy) menjadi Rp 445,6 miliar. Billy mengungkapkan, perseroan berupaya menghemat biaya promosi dan iklan untuk mengimbangi penurunan penjualan dan membukukan rasio biaya iklan dari penjualan sebesar 7% pada semester I-2022.
Menurut Billy, turunnya penjualan herbal and supplement pada paruh pertama tahun dipengaruhi kenaikan harga rata-rata sejumlah bahan pangan dan kebutuhan pokok. Ia menyebutkan, mayoritas perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) menaikkan harga jual produk mereka di tengah kenaikan harga bahan baku saat ini.
“Hal ini membebani daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah. Kenaikan tersebut berdampak sehingga fokus alokasi pendapatan mereka sebagian besar diperuntukkan pemenuhan kebutuhan pokok terlebih dahulu dan mengurangi alokasi belanja untuk produk suplemen dan vitamin,” tutur dia.
Meski kinerja penjualan dan laba bersih sedikit tergerus, penjualan ekspor SIDO masih mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan di atas 80%. Hal ini membantu mengurangi dampak penurunan di pasar domestik.
Manajemen menginformasikan, saat ini kontribusi ekspor terhadap kinerja keuangan secara konsolidasi masih di kisaran 6,6,5% dan ditargetkan mencapai 7% hingga akhir 2022. Dalam jangka panjang, kinerja ekspor ditargetkan mampu berkontribusi di atas 10% pada 2-3 tahun ke depan.
Khusus belanja modal, Direktur Keuangan SIDO Leonard memaparkan bahwa perseroan baru merealisasikan capex sebesar Rp 64 miliar dari anggaran Rp 200 miliar. Dana ini, antara lain digunakan sebagai belanja modal pemeliharaan dan beberapa capex yang meneruskan program tahun lalu seperti green house. Proyek ini membantu petani menghasilkan panen yang lebih berkualitas dengan bibit dari perseroan
Leonard optimistis, kinerja perseroan pada paruh kedua tahun ini akan jauh lebih baik dibandingkan semester I-2022. “Umumnya kalau melihat sejarah, itu semester kedua jauh lebih baik (kinerja). Pertama karena ada musim hujan, laba juga pasti akan jauh lebih baik pada paruh kedua dibandingkan paruh pertama karena volumenya juga lebih bagus,” pungkasnya.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


