Jumat, 15 Mei 2026

Hadapi Penurunan Harga Timah, Begini Prospek Saham TINS

Penulis : Parluhutan Situmorang
19 Sep 2022 | 08:51 WIB
BAGIKAN
Kegiatan di smelter PT Timah Tbk. Foto:  BeritaSatuPhoto/Defrizal
Kegiatan di smelter PT Timah Tbk. Foto: BeritaSatuPhoto/Defrizal

JAKARTA, Investor.id - PT Timah Tbk (TINS) berhasil membukukan lompatan laba bersih sebesar 300,6% menjadi Rp 1,1 triliun sepanjang semester I-2022. Lonjakan tersebut menjadikan perolehan tersbut sudah sesuai dengan ekspektasi.

Namun, penurunan harga jual nikel akibat pengurangan permintaan global setelah ekonomi melambat bisa menjadi sentimen negatif terhadap kinerja TINS sampai akhir tahun ini. Kondisi tersebut mendorong Ciptadana Sekuritas untuk memangkas proyeksi target kinerja keuangan TINS tahun 2022-2023.

TINS membukukan peningkatan pendapatan sebesar 27,4% dari Rp 5,87 triliun pada semester I-2021 menjadi Rp 7,47 triliun pada semester I-2022. Margin laba usaha juga meningkat dari 10,7% menjadi 19,1%. Sedangkan laba bersih melesat sebanyak 300,6% dari Rp 270 miliar menjadi Rp 1,08 triliun.

ADVERTISEMENT

Analis Ciptadana Sekuritas Thomas Radityo mengatakan, lonjakan laba bersih tersebut ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual komoditas timah bersamaan dengan penurunan biaya bunga. Dengan raihan tersebut, kinerja keuangan TINS sudah sesuai dengan ekspektasi.

Tetapi, memasuki kuartal terakhir tahun ini, TINS menghadapi tren penurunan harga jual timah. Jika Maret 2022 harga timah sempat melesat, namun menjelang September 2022 harga turun ke level US$ 20.525 per ton. Penurunan dipengaruhi oleh pelemahan permintaan bersamaan dengan kondisi keuangan global yang menipis.

Sentimen positif harga timah, ungkap dia, hanya datang dari peningkatan aktivitas ekonomi Tiongkok. Berbagai faktor tersebut mendorong Ciptadana Sekuritas untuk merevisi turun rata-rata harga jual komoditas timah tahun 2022-2023 menjadi US$ 31.500 dan US$ 32.000 per ton.

Revisi turun tersebut menyebabkan Ciptadana memangkas turun proyeksi kinerja keuangan TINS tahun ini. Perkiraan laba bersih direvisi turun dari Rp 2,1 triliun menjadi Rp 1,74 triliun. Sedangkan proyeksi pendapatan direvisi turun dari Rp 15,9 triliun menjadi Rp 15,42 triliun.

Meski demikian, saham TINS dipertahankan dengan rekomendasi beli dan target harga diturunkan dari Rp 2.800 menjadi Rp 2.300.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia