Harga minyak Turun US$ 2 per Barel, Tembus Level Terendah 9 Bulan
HOUSTON, investor.id - Harga minyak turun US$ 2 per barel pada Senin (27/9/2022). Tembus level terendah sembilan bulan dalam perdagangan yang berombak. Akibat, tertekan oleh penguatan dolar karena pelaku pasar menunggu rincian sanksi baru terhadap Rusia.
Minyak mentah berjangka Brent untuk November turun US$ 2,09 (2,4%) menjadi US$ 84,06 per barel, jatuh di bawah level yang dicapai pada 14 Januari.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November turun US$ 2,06 (2,3%) menjadi US$76,71, terendah sejak 6 Januari.
Kedua kontrak telah naik di awal sesi setelah merosot sekitar 5% pada Jumat (23/9/2022).
Indeks dolar mencapai level tertinggi dua dekade, menekan permintaan minyak yang dihargai dalam mata uang AS. Dampak dolar yang kuat pada harga minyak paling menonjol dalam lebih dari setahun, data Refinitiv Eikon menunjukkan.
"Sulit bagi siapa pun untuk mengharapkan minyak akan pulih setelah greenback semahal ini," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.
Gangguan dari perang Rusia-Ukraina juga menghantam pasar minyak. Dengan sanksi Uni Eropa yang melarang minyak mentah Rusia akan dimulai pada bulan Desember bersama dengan rencana oleh negara-negara G7 untuk pembatasan harga minyak Rusia yang tampaknya akan memperketat pasokan.
Kenaikan suku bunga oleh bank sentral di banyak negara konsumen minyak telah menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan minyak.
"Dengan semakin banyak bank sentral dipaksa untuk mengambil langkah-langkah luar biasa tidak peduli biaya ekonomi, permintaan akan terpukul yang dapat membantu menyeimbangkan kembali pasar minyak," kata Craig Erlam, analis pasar senior di Oanda di London.
Pelaku pasar juga tengah menanti pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada 5 Oktober. Setelah sepakat pada pertemuan mereka sebelumnya untuk memangkas produksi secara moderat. Namun, OPEC+ berproduksi jauh di bawah output yang ditargetkan, yang berarti bahwa pemotongan lebih lanjut mungkin tidak berdampak banyak pada pasokan.
"Kemungkinan akan muncul cukup tinggi untuk penyesuaian produksi ke bawah oleh organisasi OPEC +," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.
Data pekan lalu menunjukkan OPEC+ meleset dari targetnya sebesar 3,58 juta barel per hari pada Agustus, penurunan yang lebih besar dibandingkan Juli.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






