Jumat, 15 Mei 2026

Minyak Kembali Stabil Dipicu Isyarat OPEC+ Seimbangkan Pasar

Penulis : Indah Handayani
27 Sep 2022 | 11:00 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga minyak
Sumber: Antara
ilustrasi harga minyak Sumber: Antara

JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, harga minyak pagi ini terpantau kembali stabil. Didukung oleh sentimen dari isyarat aliansi produsen OPEC+ untuk memangkas produksinya dalam pertemuan bulan depan. Serta, desakan agar UE dapat ikut menerapkan pembatasan harga terhadap minyak Rusia. Meski demikian, proyeksi bernada negatif dari Bank Dunia membatasi pergerakan harga lebih lanjut.

Tim Research and Development ICDX menambahkan OPEC dan sekutunya sedang memantau situasi harga minyak dan mencari cara untuk menyeimbangkan kondisi pasar saat ini, ungkap Menteri Perminyakan Irak Ihsan Abdul Jabbar pada hari Senin. Abdul Jabbar juga menegaskan bahwa OPEC+ tidak menginginkan kenaikan tajam ataupun kemerosotan pada harga minyak.

“Pernyataan dari Abdul Jabbar tersebut mengisyaratkan potensi OPEC+ untuk melakukan pengurangan produksi dalam pertemuan 5 Oktober nanti, terlebih dengan kegagalan OPEC+ untuk mencapai target peningkatan produksi dalam beberapa bulan terakhir,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (27/9/2022).

ADVERTISEMENT

Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lain juga datang dari setidaknya 10 negara anggota Uni Eropa (UE) yang pada Senin mengirimkan draf usulan yang isinya mendesak agar UE dapat ikut serta dalam pembatasan harga minyak Rusia. Draf usulan tersebut rencananya akan diputuskan saat para menteri energi UE bertemu pada hari Jumat nanti.

“Jika pembatasan harga itu disetujui, maka berpotensi memperketat pasokan dan mendorong harga lebih tinggi,” tambah Tim Research and Development ICDX.

Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan akan melemah tajam pada 2022 menjadi 3,2%, turun dari perkiraan sebelumnya di level 5% ataupun pertumbuhan pada tahun sebelumnya di level 7,2%, ungkap Bank Dunia pada hari Selasa. Untuk faktor pemicunya adalah perlambatan ekonomi Tiongkok, yang diproyeksikan akan tumbuh 2.8% tahun ini, atau turun dari perkiraan Bank Dunia sebelumnya di level 5.0%.

Meski demikian, Bank Dunia menambahkan bahwa laju ekspansi akan meningkat tahun depan, namun di saat yang sama ada risiko depresiasi mata uang akibat kenaikan suku bunga agresif yang dilakukan bank sentral di seluruh dunia untuk memerangi inflasi yang melonjak.

Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani harga minyak, Presiden AS Joe Biden pada hari Senin kembali mengulangi tuntutan agar perusahaan minyak dan gas dapat menurunkan harga jual ke konsumen. Biden menegaskan bahwa di bulan Agustus harga minyak global telah turun dan mengutip data dari American Automobile Association, harga bensin AS pada bulan Agustus juga telah turun 9,2% secara bulanan, namun harga bensin masih belum merata, terutama di negara bagian barat yang masih jauh lebih tinggi akibat kurangnya kapasitas penyulingan.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 74 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia