Alert! Harga Minyak Terpangkas, Nasib Emiten Migas?
JAKARTA, investor.id - Harga minyak mentah terus turun. Bahkan, pada perdagangan Senin (26/9/2022), WTI turun 2.7% menjadi US$ 76.62 per barel ke level terendah sejak awal Januari di tengah lonjakan dolar AS. Lalu, bagaimana imbasnya terhadap emiten-emiten energi, terutama minyak dan gas (migas)?
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebutkan,dengan turunnya harga minyak belakangan ini akan menekan sejumlah emiten migas yang dipengaruhi oleh harga komoditasnya. Meski demikian, para pelaku pasar dapat mencermati emiten-emiten migas yang cenderung defensif.
“Emiten yang lebih berfokus di distribusi dan logistik sehingga lebih defensif terhadap harga komoditasnya,” ungkap analis yang akrab disapa Didit kepada Investor Daily, Selasa (27/9/2022).
Didit pun menyebut, salah satu emiten sektor energi, terutama migas adalah MEDC, diperkirakan masih berada di fase downtrend-nya. “Untuk itu, dapat dicermati support di 840, bila break area tersebut maka diperkirakan MEDC akan menuju 750-800,” jelasnya.
Sementara itu, Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo memprediksi, minyak berada dalam tren turun yang tajam sejak pertengahan Juni, karena Dolar AS yang lebih kuat dan kekhawatiran yang berkembang, bahwa ekonomi mayor sedang meluncur ke dalam resesi.
“Sehingga akan sangat merugikan permintaan, mengimbangi kekhawatiran tentang kekurangan pasokan pada gelombang kejut yang dikirim oleh konflik di Ukraina melalui pasar energi dan ekonomi,” paparnya.
Menurut Sutopo, minyak mentah USOil pada hari Senin ditutup turun pada harga US$ 76, kehilangan lebih dari 3%. Sedangkan UKOil ditutup pada harga US$ 83,68, juga kehilangan lebih dari 3%. Reli dalam indeks dolar Senin ke level tertinggi baru 20 tahun melemahkan harga komoditas secara umum.
“Tidak hanya itu, penurunan minyak mentah dipercepat saat S&P 500 turun ke level terendah 3 bulan yang mengurangi kepercayaan pada prospek ekonomi dan negatif untuk permintaan energi,” kata Sutopo.
Lebih lanjut Sutopo mengatakan, penurunan permintaan minyak AS dan penurunan jumlah penerbangan global ikut andil dalam pelemahan harga minyak. Sedangkan pada sisi positif yang mendukung harga minyak, datang dari pelonggaran pembatasan pandemi di Tiongkok, prospek suram perjanjian nuklir Iran.
“Ditambah, kesepakatan pemangkasan produksi sebesar 100 ribu barel per hari pada Oktober oleh OPEC+ yang disepakati pada 5 September lalu,” tutup Sutopo.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler




