Jumat, 15 Mei 2026

Harga CPO Lagi-lagi Melemah

Penulis : Indah Handayani
28 Sep 2022 | 05:20 WIB
BAGIKAN
Sawit. Foto ilustrasi: IST
Sawit. Foto ilustrasi: IST

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives lagi-lagi melemah pada perdagangan Selasa (27/9/2022). Dengan demikian, penurunan harga CPO terjadi dalam empat hari perdagangan berturut-turut.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (27/9/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Oktober 2022 turun 18 Ringgit Malaysia menjadi 3.463 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2022 melemah 13 Ringgit Malaysia menjadi 3.503 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Desember 2022 terkoreksi 18 Ringgit Malaysia menjadi 3.523 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 terkikis 17 Ringgit Malaysia menjadi 3.558 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Serta, kontrak pengiriman Februari 2023 merosot 14 Ringgit Malaysia menjadi 3.603 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 merugi 15 Ringgit Malaysia menjadi 3.640 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO  pada pekan ini diprediksi bergerak stabil pada kisaran sempit. Namun, tren tersebut berpotensi terkoreksi apabila ada indikator kuat di pasar yang dirilis saat akhir pekan ini ataupun di awal pekan depan.

“Indikator yang dipantau di pekan depan adalah rilisnya data ekspor CPO Malaysia bulan September, perkembangan situasi di Indonesia terkait program biodiesel dan kebijakan DMO,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Menurut Yoga, pada 1-20 September ekspor Malaysia mengalami peningkatkan. Hal ini menggambarkan permintaan sedang kuat di pasar. Kemungkinan masih akan tetap bertahan hingga bulan depan, karena akan ada sejumlah perayaan dan festival yang berlangsung pada Oktober di India.

Disisi lain, lanjutnya, kekhawatiran resesi dunia semakin meningkat. Hal ini berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi secara global, yang akan turut memicu pelemahan permintaan di semua komoditi termasuk CPO.

Ditambah lagi, lanjut Yoga, harga minyak kedelai yang masih bergerak tren bullish. Hal ini akibat gangguan pada sisi pasokan akibat cuaca La Nina serta kondisi cuaca yang tidak bersahabat di negara-negara produsen utama minyak kedelai. 

“Harga minyak kedelai diperkirakan akan bergerak pada resistance berada di kisaran harga US$ 67 - 68 per bushel. Sedangkan support di kisaran harga US$ 65 - 64 per bushel,” tutupnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia