Jumat, 15 Mei 2026

Duh, Harga CPO Turun Lima Hari Berturut-turut

Penulis : Indah Handayani
29 Sep 2022 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Panenan sawit. Foto: DEFRIZAL
Panenan sawit. Foto: DEFRIZAL

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives anjlok pada perdagangan Rabu (28/9/2022). Dengan demikian, penurunan harga CPO terjadi dalam lima hari perdagangan berturut-turut. Karena mengalami tren pelemahan sejak Kamis (22/9/2022).

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Rabu (28/9/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Oktober 2022 turun 319 Ringgit Malaysia menjadi 3.144 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2022 anjlok 322 Ringgit Malaysia menjadi 3.181 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Desember 2022 terkoreksi 297 Ringgit Malaysia menjadi 3.226 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 terkikis 289 Ringgit Malaysia menjadi 3.269 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Serta, kontrak pengiriman Februari 2023 merosot 291 Ringgit Malaysia menjadi 3.312 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 merugi 291 Ringgit Malaysia menjadi 3.349 Ringgit Malaysia per ton.

Pada Rabu (28/9/2022), Indonesia mengumumkan rencana mereka untuk menetapkan harga acuan CPO pada US$ 792,19 per ton untuk periode 1-15 Oktober, turun dari US$ 846,32 per ton untuk 16-30 September. Harga baru itu akan menempatkan pajak ekspor minyak sawit sebesar US$ 33 per ton dari sebelumnya US$ 52 per ton.

Trader minyak sawit David Ng mengatakan, langkah produsen minyak sawit terbesar dunia akan menimbulkan persaingan yang lebih besar untuk ekspor minyak sawit Malaysia.

“Patokan Desember 2022 jatuh di bawah 3.300 Ringgit Malaysia per ton, terendah sejak November 2020. Hal ini karena Indonesia mengurangi harga referensi pajak yang menurunkan pajak ekspor. Secara tidak langsung membuat ekspor sawit Malaysia kurang kompetitif,” katanya sembari menambahkan melemahnya sentimen global turut meredam sentimen pelaku pasar.

Sementara itu, pemilik dan salah satu pendiri Palm Oil Analytics yang berbasis di Singapura Sathia Varga mengatakan, sentimen pasokan yang lebih tinggi juga membebani CPO berjangka untuk ditutup lebih rendah.

“Pasokan akan lebih tinggi seperti stok minyak sawit yang meningkat. Kami memperkirakan stok September 2022 akan naik lebih tinggi dari Agustus," tambahnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia