Jumat, 15 Mei 2026

Minyak Stabil Didukung Isyarat OPEC+ Lakukan Pemangkasan Terbesar Sejak Pandemi

Penulis : Indah Handayani
3 Okt 2022 | 11:00 WIB
BAGIKAN
Foto yang diambil pada 21 April 2020 ini menunjukkan pompa-pompa minyak beroperasi di Willow Springs Park di Long Beach, California, AS. (Foto: Apu GOMES / AFP)
Foto yang diambil pada 21 April 2020 ini menunjukkan pompa-pompa minyak beroperasi di Willow Springs Park di Long Beach, California, AS. (Foto: Apu GOMES / AFP)

JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, pada pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau mengalami koreksi naik pasca OPEC+ mengisyaratkan kemungkinan pemotongan produksi hingga lebih dari 1 juta bph, yang merupakan pemangkasan terbesar yang dilakukan sejak pandemi. Selain itu, ancaman Badai Orlene serta eskalasi konflik Ukraina juga turut memberikan dukungan pada harga minyak.

Tim Research and Development ICDX menjelaskan, OPEC+ berpotensi mengurangi produksi sebesar 500 ribu bph hingga lebih dari 1 juta bph, yang kemungkinan sudah termasuk pengurangan secara sukarela oleh Arab Saudi, pada pertemuan di Wina pada Rabu (5/1/2022), ungkap sumber OPEC+ pada hari Minggu.

“Angka pemangkasan tersebut sejalan dengan usulan yang disampaikan oleh Rusia pada pekan lalu, dan jika disepakati, maka akan menjadi pemangkasan produksi terbesar yang dilakukan oleh aliansi 23 negara produsen itu sejak pandemi,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (1/10/2022).  

ADVERTISEMENT

Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut mendukung pergerakan harga minyak, Pusat Badai Nasional AS pada hari Minggu mengumumkan potensi Badai baru yang akan melanda AS, tepat beberapa hari setelah Badai Ian. Badai Orlene yang meluncur ke arah pantai barat daya Meksiko diperkirakan sebagai badai kategori 3 yang berbahaya dan berpotensi membawa hujan lebat.

“Situasi itu memicu kekhawatiran akan kembali terganggunya produksi minyak di Teluk Meksiko yang menjadi pusat energi AS dan berkontribusi terhadap 15% pasokan minyak mentah dan 5% produksi gas alam AS,” tambah Tim Research and Development ICDX.

Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lain juga datang dari eskalasi konflik Ukraina pasca Rusia menganeksasi empat wilayah provinsi Ukraina, mencakup sekitar seperlima wilayah Ukraina pada hari Jumat. Ukraina pada hari Minggu mengklaim kendali penuh atas Lyman yang menjadi pusat logistik bagian timur Rusia saat ini, dan menegaskan akan memotong lebih banyak jalur pasokan Rusia.

Sementara itu, permintaan minyak oleh Tiongkok berpotensi mengalami penurunan pasca data indikator ekonomi terbaru yang dirilis oleh negara konsumen energi terbesar kedua dunia itu menunjukkan perlambatan. Harga rumah baru di Tiongkok bulan September dilaporkan kembali merosot, yang menandai penurunan selama bulan ketiga berturut-turut, menambah tekanan pada raksasa ekonomi terbesar kedua dunia itu, yang ekonominya hampir tidak bertumbuh pada kuartal II tahun ini akibat penguncian Covid-19.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 85 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia