Menu
Sign in
@ Contact
Search
Foto yang diambil pada 21 April 2020 ini menunjukkan pompa-pompa minyak beroperasi di Willow Springs Park di Long Beach, California, AS. (Foto: Apu GOMES / AFP)

Foto yang diambil pada 21 April 2020 ini menunjukkan pompa-pompa minyak beroperasi di Willow Springs Park di Long Beach, California, AS. (Foto: Apu GOMES / AFP)

Minyak Stabil Didukung Isyarat OPEC+ Lakukan Pemangkasan Terbesar Sejak Pandemi

Senin, 3 Oktober 2022 | 11:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, pada pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau mengalami koreksi naik pasca OPEC+ mengisyaratkan kemungkinan pemotongan produksi hingga lebih dari 1 juta bph, yang merupakan pemangkasan terbesar yang dilakukan sejak pandemi. Selain itu, ancaman Badai Orlene serta eskalasi konflik Ukraina juga turut memberikan dukungan pada harga minyak.

Tim Research and Development ICDX menjelaskan, OPEC+ berpotensi mengurangi produksi sebesar 500 ribu bph hingga lebih dari 1 juta bph, yang kemungkinan sudah termasuk pengurangan secara sukarela oleh Arab Saudi, pada pertemuan di Wina pada Rabu (5/1/2022), ungkap sumber OPEC+ pada hari Minggu.

Baca juga: Jumlah Aset Berubah US$ 50,1 Juta di Laporan Keuangan, Ini Penjelasan MNC Energy (IATA)

“Angka pemangkasan tersebut sejalan dengan usulan yang disampaikan oleh Rusia pada pekan lalu, dan jika disepakati, maka akan menjadi pemangkasan produksi terbesar yang dilakukan oleh aliansi 23 negara produsen itu sejak pandemi,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (1/10/2022).  

Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut mendukung pergerakan harga minyak, Pusat Badai Nasional AS pada hari Minggu mengumumkan potensi Badai baru yang akan melanda AS, tepat beberapa hari setelah Badai Ian. Badai Orlene yang meluncur ke arah pantai barat daya Meksiko diperkirakan sebagai badai kategori 3 yang berbahaya dan berpotensi membawa hujan lebat.

Baca juga: Ukraina Gencarkan Serangan untuk Pukul Mundur Pasukan Rusia

“Situasi itu memicu kekhawatiran akan kembali terganggunya produksi minyak di Teluk Meksiko yang menjadi pusat energi AS dan berkontribusi terhadap 15% pasokan minyak mentah dan 5% produksi gas alam AS,” tambah Tim Research and Development ICDX.

Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lain juga datang dari eskalasi konflik Ukraina pasca Rusia menganeksasi empat wilayah provinsi Ukraina, mencakup sekitar seperlima wilayah Ukraina pada hari Jumat. Ukraina pada hari Minggu mengklaim kendali penuh atas Lyman yang menjadi pusat logistik bagian timur Rusia saat ini, dan menegaskan akan memotong lebih banyak jalur pasokan Rusia.

Baca juga: Saham Blue Chip Terkoreksi, IHSG Turun 0,19% pada Sejam Perdagangan

Sementara itu, permintaan minyak oleh Tiongkok berpotensi mengalami penurunan pasca data indikator ekonomi terbaru yang dirilis oleh negara konsumen energi terbesar kedua dunia itu menunjukkan perlambatan. Harga rumah baru di Tiongkok bulan September dilaporkan kembali merosot, yang menandai penurunan selama bulan ketiga berturut-turut, menambah tekanan pada raksasa ekonomi terbesar kedua dunia itu, yang ekonominya hampir tidak bertumbuh pada kuartal II tahun ini akibat penguncian Covid-19.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 85 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com