Jumat, 15 Mei 2026

Astra (ASII) Mau Bagi Dividen Interim Rp 3,5 Triliun

Penulis : Eva Fitriani
3 Okt 2022 | 23:14 WIB
BAGIKAN
PT Astra International Tbk (ASII). (Perseroan)
PT Astra International Tbk (ASII). (Perseroan)

JAKARTA, investor.id – PT Astra International Tbk (ASII) akan membagikan dividen interim tahun buku 2022 sebesar Rp 3,56 triliun. Dividen senilai Rp 88 per saham tersebut akan dibagikan kepada pemegang saham ASII pada 31 Oktober 2022.

"Sesuai dengan keputusan direksi yang telah disetujui dewan komisaris pada tanggal 29 September 2022, perseroan menyampaikan rencana pembagian dividen interim untuk periode tahun buku 2022, dengan total nilai dividen Rp 3,56 triliun," kata Corporate Secretary Astra International Gita Tiffany Boer dalam keterangan tertulis, Senin (3/10/2022).

Gita menjelaskan, tanggal cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi berlangsung pada 11 Oktober 2022, disusul tanggal ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 12 Oktober 2022, tanggal cum dividen di pasar tunai pada 13 Oktober 2022, tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen tunai pada 13 Oktober 2022, tanggal ex dividen di pasar tunai pada 14 Oktober 2022, dan tanggal pembayaran dividen pada 31 Oktober 2022.

ADVERTISEMENT

Gita menyebut, data keuangan per 30 Juni 2022 yang mendasari pembagian dividen adalah laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 18,17 triliun, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya Rp 173,7 triliun, dan total ekuitas Rp 232,08 triliun.

Pada 20 Mei lalu, Astra International juga telah membagikan dividen tunai senilai Rp 9,67 triliun untuk tahun buku 2021. Dividen yang dibagikan tersebut mencapai 47% dari laba bersih 2021 yang sebesar Rp 20,2 triliun. Sementara 52% dari laba bersih 2021 atau sekitar Rp 10,52 triliun dialokasikan sebagai laba ditahan perseroan.

Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro sebelumnya mengatakan, pihaknya mengapresiasi dukungan penuh yang diberikan para stakeholders selama ini. "Dengan posisi keuangan yang kuat, Grup Astra akan terus fokus mencari peluang bisnis baru untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan," kata dia.

Terkait hal tersebut, Djony menegaskan, pihaknya berencana merambah sejumlah lini usaha baru pada tahun ini untuk meningkatkan value creation perseroan. Perseroan akan fokus pada sektor teknologi digital, jasa keuangan, sektor kesehatan, kemudian mobilitas termasuk logistik, dan Energi Baru Terbarukan (EBT), serta sektor pertambangan terutama non-batu bara.

"Secara prinsip, kami selalu terbuka pada setiap peluang yang sejalan dengan hasil analisa perusahaan, dan sesuai dengan values long term, lalu kemampuan Astra berkontribusi di bisnis baru tersebut, serta kultur di perusahaan yang ingin kita investasi atau partisipasi," jelas Djony.

Ditambah, kata dia, horizon investasi Astra juga cukup panjang antara tiga sampai lima tahun, karena prosesnya yang bergantung pada situasi di lapangan. "Yang jelas, ketertarikan perseroan untuk berekspansi di lini-lini usaha tersebut telah melewati kajian," ungkap dia.

Di sektor digital misalnya, Djony menuturkan bahwa perseroan akan melakukan digitalisasi dan transformasi di seluruh bisnis yang relevan. Sementara untuk sektor keuangan, dia melihat, bisnis tersebut masih potensial karena berkaca dari literasi keuangan di Indonesia yang belum setingkat dengan negara-negara lain, sehingga jasa keuangan masih menjadi peluang yang besar.

Demikian pula dengan sektor kesehatan, perseroan meyakini ceruk usaha tersebut akan menjadi fundamental bagi Indonesia ke depan, karena didukung pendapatan masyarakat, tingkat kehidupan yang membaik, dan tingkat GDP per kapita yang terus bertambah. Untuk sektor mobilitas atau logistik, tahun ini perseroan bahkan telah membentuk kerja sama patungan (joint venture) dengan perusahaan kompeten di bidang logistic warehouse yang tidak lain merupakan hasil kajian dan investasi perusahaan.

Ekspansi Astra di bidang EBT, menurut Djony, juga sejalan dengan tujuan perseroan secara jangka panjang. "Kami ingin masuk ke energi terbarukan. Jadi, fokus di situ dan sektor pertambangan khususnya non-batubara. Pertambangan mineral itu jadi target kita," terang dia.

Dia menambahkan, beberapa prospek sudah dilakukan perseroan pada tahun ini dan diharapkan semuanya dapat terealisasi. Bukan hanya prospek baru atau lini usaha baru, tetapi juga lini bisnis yang sudah dimiliki perseroan dengan memperkaya kolaborasi di seluruh bisnis Astra guna meningkatkan value creation dan berjalan secara paralel.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia