Awal Pekan, Rupiah Dibuka Loyo ke Posisi Rp 15.282 per Dolar AS
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (10/10/2022) pagi melemah 31 poin atau 0,2 persen ke posisi Rp15.282 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.251 per dolar AS.
Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri memproyeksikan, rupiah hari ini akan melemah merespons angka sektor tenaga kerja AS yang cukup baik sehingga potensi The Fed hawkish masih berlanjut. Adapun, sepanjang pekan lalu rupiah bergerak cukup fluktuatif di kisaran Rp 15.100 - Rp 15.300 terhadap dolar AS. Kebijakan The Fed yang hawkish masih membuat investasi di dolar AS tetap tinggi. Di mana, perkembangan kebijakan The Fed masih mempengaruhi pergerakan valas global dan rupiah.
Sedangkan, dari dalam negeri, rilis cadangan devisa yang masih cukup kuat belum bisa menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Akhir pekan ini, rilis data tenaga kerja AS akan menjadi sentimen perdagangan pada awal pekan depan.
Reny memperkirakan, pekan ini rupiah akan berada di kisaran Rp 14.950-Rp 15.280 per dolar AS. Sementara, untuk Senin ini di level Rp 15.165-Rp 15.248 per dolar AS.
Sementara itu, nilai tukar rupiah hari ini diprediksi masih berkutat pada kisaran Rp15.200-an terpengaruh oleh laju dolar AS. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah pada Senin ini kemungkinan dibuka berfluktuatif namun dapat ditutup melemah di rentang Rp15.240-Rp 15.290 per dolar AS.
Akhir pekan lalu lalu (7/10/2022) rupiah ditutup melemah 0,46 persen atau turun 70,5 poin ke posisi Rp15.258 per dolar AS usai rilis data cadangan devisa September 2022. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2022 sebesar US$130,8 miliar. Posisi ini turun sebesar US$1,4 miliar dari posisi pada akhir Agustus 2022 sebesar US$132,2 miliar.
Penurunan posisi cadangan devisa pada periode tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, penyebab lainnya terdapat kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Lebih lanjut, dari luar negeri sentimen yang mempengaruhi rupiah masih datang dari lonjakan dolar AS di tengah sinyal kenaikan suku bunga Bank Sentral Federal Reserve.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






