Jumat, 15 Mei 2026

Ekonomi Tak Pasti Jadi Tantangan Tentukan Momentum untuk IPO

Penulis : Zsazya Senorita
13 Okt 2022 | 22:14 WIB
BAGIKAN
Pekerja sedang membersihkan kaca gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Beritasatu Photo/Uthan AR)
Pekerja sedang membersihkan kaca gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Beritasatu Photo/Uthan AR)

JAKARTA, investor.id – Berbagai faktor ekonomi yang tidak menentu belakangan ini, baik domestik maupun internasional, menjadi tantangan tersendiri bagi sebuah perusahaan untuk menentukan momentum yang tepat dalam melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Direktur Utama PT Bahana Sekuritas Edward Lubis menyebutkan, siklus ekonomi pascapandemi telah bergerak lebih cepat dan tidak menentu. Beberapa hal yang menjadi pemicu belakang ini, antara lain perang Rusia-Ukraina, kenaikan harga komoditas, kenaikan inflasi, dan ancaman resesi.

“Karena bisa jadi ada momentum euforia yang cepat sekali sehingga harga saham naik berlipat-lipat, lalu kemudian diikuti dengan koreksi yang cukup tajam. Jadi, ini memang menjadi challenge bagi perusahaan-perusahaan yang mau IPO,” ujar Edward pada diskusi bertema Go Public: Menuju Pertumbuhan Perusahaan Berkelanjutan pada acara Capital Market Summit & Expo 2022 secara virtual, Kamis (13/10).

Ia menambahkan, era kenormalan baru menjadi faktor tambahan yang harus dipertimbangkan para perusahaan yang ingin merencanakan IPO. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, ia melihat bahwa dinamika ekonomi dan likuiditas di pasar sangat berfluktuasi.

ADVERTISEMENT

Meski ekonomi Indonesia saat ini membaik, sejumlah sentimen negatif global masih menghantui masa depan negara. Karena itu, perusahaan diminta mengamati, apakah sektor bisnis yang dijalani cukup menarik pada masa resesi global bila ingin melakukan IPO.

Menurut Edward, saat ini Indonesia memiliki likuiditas yang cukup, namun hanya beberapa sektor bisnis yang unggul secara global yang memiliki akses untuk mendapatkannya. “Contoh, saat ini mungkin yang lagi bagus sektor energi, walau nanti pada siklus berikutnya akan berubah kembali. Jadi, siklus pasar makin pendek, timing makin krusial, sementara background geopolitik dan inflasi serta ancaman resesi masih terlihat cukup nyata,” papar dia.

Namun ia memastikan, masih ada faktor-faktor ekonomi Indonesia yang bagus secara keseluruhan dan kuat secara institusi. Nasib pascapandemi negara ini dinilai cukup menjanjikan dari sisi pertumbuhan, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu pulih cepat. Nilai tukar rupiah juga masih terdepresiasi di batas normal dibandingkan negara lain.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) Andrew Mulyadi menceritakan pengalamannya IPO di masa pandemi. Menurut dia, menjadi perusahaan terbuka di saat pandemi, tidak terlalu memberatkan. Perusahaan ini justru mendapat manfaat IPO saat pandemi karena jumlah investor meningkat pesat, hingga penawaran umum saham BIKE mengalami oversubscribed.

“Investor pada masa pandemi begitu antusias untuk menanamkan dananya di saham. Kami mengambil momentum ini untuk IPO saat masyarakat,” imbuh Andrew.

Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat Bursa Efek Indonesia (BEI) Saptono Adi Junarso pun menegaskan, selalu ada peluang dan tantangan dalam setiap situasi. Ia mencontohkan bagi lini bisnis seperti ritel, pandemi menciptakan kondisi yang kurang baik. Namun hal berbeda terjadi pada lini bisnis teknologi, digital, dan kesehatan termasuk produk kesehatan seperti sepeda.

“Kami melihat, kondisi kenormalan baru memberikan angin segar yang lebih baik lagi. Di mana beberapa sektor lain mengalami kesulitan, kami harap bisa recovery dan kembali memberi manfaat untuk investor dan industri pasar modal,” tutur dia.


 

Editor: Nasori

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 14 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 18 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia