Harga CPO Menguat
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada perdagangan Selasa (25/10/2022).
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (25/10/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman November 2022 turun 15 Ringgit Malaysia menjadi 3.964 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 naik 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.077 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak pengiriman Januari 2023 terkerek 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.127 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Februari 2023 naik 24 Ringgit Malaysia menjadi 4.152 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman Maret 2023 meningkat 15 Ringgit Malaysia menjadi 4.150 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman April 2023 menguat 3 Ringgit Malaysia menjadi 4.127 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, dilihat dari trennya, harga CPO cenderung masih berada dalam tren bullish. Sentimen penggerak utamanya masih seputar kekhawatiran gangguan pasokan di pasar minyak nabati yang dipicu oleh sinyal konflik Ukraina yang kian memanas.
Yoga menambahkan, tingginya curah hujan yang melanda negara produsen utama CPO yakni Indonesia dan Malaysia juga turut menjadi katalis positif bagi harga CPO. “Besar kemungkinan tren pergerakan harga masih akan bertahan bullish. Kecuali jika ada ‘kejutan’ di pasar yang berpotensi membuat harga terkoreksi,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Yoga menyebut, indikator yang menjadi fokus antara lain rilisnya data ekspor CPO Malaysia, perkembangan situasi di Indonesia khususnya terkait ekspor CPO, kondisi cuaca di Indonesia dan Malaysia, rencana pemerintah India untuk mengkaji ulang kebijakan biaya impor untuk CPO dan turunannya, perkembangan kasus Covid-19 di Tiongkok dan perkembangan di pasar minyak nabati.
“Harga CPO pekan depan berpotensi berada di kisaran resistance 4.400 – 4.600 Ringgit Malaysia per ton, Apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju posisi support di kisaran harga 3.800 – 3.600 Ringgit Malaysia per ton,” tutup Yoga
Menurut Yoga, pasar minyak nabati juga akan berada di tren bullish. Melihat dari situasi konflik Ukraina yang dalam beberapa hari terakhir ini menunjukkan peningkatan. Untuk itu, indikator yang dipantau antara lain perkembangan situasi konflik Ukraina, kondisi cuaca di negara produsen minyak nabati, perkembangan kasus Covid-19 di Tiongkok dan perkembangan situasi di pasar CPO.
“Untuk potensi resistance berada di level US$ 75 per pound, dan apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju posisi support di level US$ 65 per pound,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






