Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kebun sawit. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kebun sawit. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Harga CPO Menguat

Rabu, 30 Nov 2022 | 05:10 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada perdagangan Selasa (29/11/2022). Setelah pada Senin (28/11/2022) perdagangan ditutup karena ditetapkan Perdana Menteri Anwar Ibrahim sebagai libur nasional di Malaysia. 

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (29/11/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember 2022 naik 38 Ringgit Malaysia menjadi 4.098 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 menguat 71 Ringgit Malaysia menjadi 4.185 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Februari 2023 terkerek 79 Ringgit Malaysia menjadi 4.219 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 bertambah 83 Ringgit Malaysia menjadi 4.235 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga: Truk Terbalik, 10 Ton CPO Tumpah ke Jalan

Advertisement

Serta, kontrak pengiriman April 2023 naik 84 Ringgit Malaysia menjadi 4.213 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Mei 2023 terdongkrak 80 Ringgit Malaysia menjadi 4.166 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, pekan ini harga CPO akan bergantung pada jajaran indikator yang bakal diperhatikan oleh para pelaku pasar. Mulai dari rilisnya data ekspor CPO Malaysia periode bulan November,  perkembangan situasi di Indonesia khususnya terkait ekspor CPO dan program biodiesel B40, perkembangan situasi Covid-19 di Tiongkok, dan kondisi di pasar minyak nabati.

Baca juga: Perhatian! Harga CPO Bakal Dipengaruhi Jajaran Indikator Ini

“Harga CPO pekan ini berpotensi berada di resistance 4.500 – 4.650 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan support terdekat di harga 3.800 – 3.650 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.

Yoga menambahkan, harga CPO juga akan dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak kedelai yang pada pekan ini nampaknya masih akan bergerak terbatas atau tidak terlalu berfluktuatif.  Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan situasi Covid-19 di Tiongkok, perkembangan situasi pelayaran di jalur Laut Hitam, ancaman iklim La Nina di negara produsen utama, dan situasi di pasar CPO.

“Harga minyak kedelai diperkirakan akan berada di resistance US$ 74 - 76 per pounds, dan potensi support di kisaran harga US$ 70 - 68 per pounds,” tambahnya.

Baca juga: Tak Ganggu Kebutuhan Pangan Lokal, Minyak Sawit untuk Biodisel Perlu Terus Dikembangkan

Yoga menambahkan, jika melihat dari data ekspor di negara eksportir utama yaitu Indonesia dan Malaysia, terjadi peningkatan permintaan dari negara importir, dan kemungkinan masih akan terus meningkat hingga awal tahun akibat berlangsungnya perayaan Chinese New Year yang jatuh di bulan Januari.

Sedangkan untuk penurunan pasokan ini nampaknya lebih diakibatkan karena efek dari tingginya curah hujan yang melanda. Mengutip dari departemen meteorologi Malaysia, diperkirakan curah hujan yang tinggi masih akan bertahan hingga bulan Maret tahun depan.

“Hingga akhir tahun, kemungkinan harga CPO akan menemui level resistance di kisaran harga 4.700 – 5.000 Ringgit Malaysia per ton. Apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju level support di kisaran harga 3.500 – 3.200 Ringgit Malaysia per ton,” jelasnya

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com