Jumat, 15 Mei 2026

Dolar Tergelincir di Tengah Data Pekerjaan AS

Penulis : Indah Handayani
3 Des 2022 | 07:00 WIB
BAGIKAN
Teller menghitung mata uang dolar AS di salah satu money changer di Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/DAVID GITA ROZA
Teller menghitung mata uang dolar AS di salah satu money changer di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

NEW YORK, investor.id  - Dolar AS tergelincir terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (2/12/2022). Karena pelaku pasar mencerna data penggajian non-pertanian AS terbaru dan setelah seorang pejabat Federal Reserve mengatakan kenaikan suku bunga kemungkinan akan melambat.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,18% menjadi 104,5460.

Pada akhir perdagangan New York, Euro naik menjadi US$ 1,053 dari US$  1,052 pada sesi sebelumnya. Sedangkan poundsterling Inggris meningkat menjadi US$ 1,228 dari US$ 1,225 pada sesi sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Dolar AS dibeli 134,47 yen Jepang, lebih rendah dari 135,24 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9377 franc Swiss dari 0,9367 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3463 dolar Kanada dari 1,3427 dolar Kanada. Dolar AS meningkat menjadi 10,3254 krona Swedia dari 10,3088 krona Swedia.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Jumat (2/12/2022) bahwa pemberi kerja negara itu menambahkan 263 ribu pekerjaan pada November, turun dari revisi naik Oktober 284 ribu, tetapi lebih tinggi dari perkiraan konsensus 200 ribu. Tingkat pengangguran tidak berubah pada 3,7%.

"Kenaikan data gaji yang solid lainnya, tetapi satu bulan lagi dengan pekerjaan yang ditambahkan lebih sedikit dari bulan sebelumnya," Chris Low, kepala ekonom di FHN Financial, mengatakan dalam sebuah catatan pada Jumat (2/12/2022).

"Tidak ada dalam laporan ini yang akan memaksa Fed dengan satu atau lain cara. Artinya, tidak ada alasan untuk lebih agresif dalam menaikkan suku bunga, tapi juga tidak ada alasan untuk berhenti mendaki juga,” tambahnya.

"Perekrutan yang lebih kuat dari perkiraan dapat memberi Fed lebih banyak waktu untuk tetap agresif," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Convera di Washington.

Sementara itu, Presiden Fed Chicago Charles Evans mengatakan bahwa laju kenaikan suku bunga kemungkinan akan melambat, tetapi menambahkan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan perlu menaikkan biaya pinjaman ke puncak ‘sedikit lebih tinggi’ daripada yang diperkirakan dalam perkiraan mulai September.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia