Komitmen OPEC+ Serta Penegasan Sikap Rusia Dongkrak Penguatan Minyak
JAKARTA, investor.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, Senin (5/12/2022), harga minyak terpantau bergerak menguat. Didukung oleh penegasan komitmen OPEC+ dalam kebijakan pemangkasan dan pernyataan Rusia untuk tidak menjual minyak ke negara G7 dan Uni Eropa. Selain itu, sinyal pelonggaran pembatasan di Tiongkok juga turut mendukung pergerakan harga minyak.
Tim Research and Development ICDX mengatakan, dalam pertemuan yang berlangsung pada hari Minggu, OPEC dan sekutunya, sepakat untuk tetap berpegang pada kebijakan yang diputuskan pada bulan Oktober lalu, yakni pemangkasan produksi sebesar 2 juta bph dari November hingga 2023.
“Keputusan dari aliansi 23 negara produsen minyak itu membebani sisi pasokan, terlebih dengan adanya embargo Uni Eropa (UE) dan G7 terhadap produk energi Rusia, mengindikasikan potensi pasokan yang akan semakin ketat di pasar global,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (5/12/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Rusia menegaskan tidak akan akan mematuhi batas harga yang ditetapkan oleh negara-negara G7 dan UE untuk ekspor minyak via lautnya, bahkan jika harus memangkas produksi, ungkap orang kepercayaan Presiden Vladimir Putin di bidang energi pada Senin (5/12/2022).
Tim Research and Development ICDX menyebut, UE pada Jumat (5/12/2022) menyepakati batas harga di level US$ 60 per barel secara sementara, dan berharap dengan batas tersebut Rusia masih akan memiliki insentif untuk terus menjual minyaknya, meski mendapat keuntungan yang lebih kecil.
“Batas harga yang ditetapkan tersebut mulai berlaku pada hari Senin, dan akan ditinjau oleh UE dan G7 setiap dua bulan, dengan tinjauan pertama pada pertengahan Januari,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, sentimen positif lain juga datang dari sinyal positif akan permintaan bahan bakar setelah lebih banyak kota di Tiongkok yang melonggarkan pembatasan Covid selama akhir pekan.
Meskipun saat ini kasus harian masih mendekati level tertinggi, namun beberapa kota memilih untuk melonggarkan persyaratan pengujian Covid dan aturan karantina karena negara importir minyak terbesar pertama dunia itu berupaya menjadikan kebijakan nol-Covidnya lebih bertarget di tengah perlambatan ekonomi yang tajam serta aksi protes beberapa waktu lalu, yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






