Harga CPO Berbalik Menguat
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives berbalik menguat pada perdagangan Selasa (13/12/2022). Setelah mengalami penurunan pada perdagangan Senin (12/12/2022).
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (13/12/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember 2022 stagnan di 3.826 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 meningkat 148 Ringgit Malaysia menjadi 3.850 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak pengiriman Februari 2023 terkerek 149 Ringgit Malaysia menjadi 3.886 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 menguat 139 Ringgit Malaysia menjadi 3.903 Ringgit Malaysia per ton.
Baca Juga:
Duh, Harga CPO AnjlokSerta, kontrak pengiriman April 2023 bertambah 137 Ringgit Malaysia menjadi 3.904 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Mei 2023 terdongkrak 120 Ringgit Malaysia menjadi 3.898 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, sepekan ke depan, harga CPO akan bergantung pada indikator pasar yang akan dirilis. Indikator yang dipantau antara lain rilisnya data ekspor CPO Malaysia untuk paruh pertama Desember, perkembangan situasi di Indonesia terkait kebijakan ekspor CPO, situasi di negara importir utama dan situasi di pasar minyak nabati.
“Untuk level resistance di kisaran harga 4.100 – 4.250 Ringgit Malaysia per ton, dan apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke level support di 3.900 – 3.750 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.
Yoga memperkirakan permintaan dari Tiongkok berpotensi meningkat seiring dengan membaiknya situasi Covid-19 serta persiapan stok menyambut perayaan Tahun Baru China. Ditambah lagi, India yang baru-baru ini memutuskan untuk memperpanjang bea masuk gratis untuk CPO hingga akhir Desember, juga berpotensi mendongkrak kenaikan permintaan.
Baca Juga:
Produktivitas dan Hilirisasi Sawit“Meski demikian, permintaan dari Uni Eropa berpotensi menurun akibat pemberlakuan undang-undang larangan impor untuk komoditas terkait deforestasi, termasuk CPO,” tambahnya.
Tidak hanya itu, lanjut Yoga, pekan ini harga minyak kedelai berpotensi bergerak pada tren bullish. Untuk sentimen yang mempengaruhi antara lain gangguan cuaca di negara produsen utama seperti Argentina yang mengalami kekeringan, meningkatnya permintaan dari Tiongkok seiring dengan membaiknya situasi Covid-19 di negara importir kedelai terbesar pertama dunia itu, dan situasi di pasar CPO.
“Untuk level resistance di kisaran harga US$ 65 - 70 per pounds, dan apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke level support di US$ 55 - 50 per pounds,” tutup Yoga.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






