Jumat, 15 Mei 2026

Reliance Sekuritas: IHSG Bakal Ikuti Pasar Regional, Saham-saham Ini Berpotensi Naik

Penulis : Indah Handayani
15 Des 2022 | 08:41 WIB
BAGIKAN
Investor memantau pergerakan saham lewat ponsel. (B Universe Photo/Uthan AR)
Investor memantau pergerakan saham lewat ponsel. (B Universe Photo/Uthan AR)

JAKARTA, investor.id - Reliance Sekuritas menyebut IHSG bakal mengikuti pasar regional sehingga diperkirakan akan bergerak  mixed cenderung melemah pada perdagangan Kamis (15/12/2022). IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak pada rentang 6.750 – 6.860. Saham-saham ini berpotensi naik. Salah satunya BBCA.   

Reliance Sekuritas menjelaskan, IHSG diperkirakan akan diperdagangkan mixed cenderung melemah mengikuti pasar regional. Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekspor-impor Indonesia bulan November. “Neraca perdagangan tersebut diperkirakan oleh konsensus akan mengalami pertumbuhan namun melambat masing-masing sebesar 9.5% YoY dan 7% YoY,” tulis Reliance Sekuritas dalam risetnya, Kamis (15/12/2022).

Secara teknikal, Reliance Sekuritas menambahkan, IHSG membentuk candle bearish diikuti volume jual yang signifikan. Namun, mulai menjauh dari area support sehingga masih berpotensi untuk melanjutkan fase rebound. “Beberapa saham yang memiliki potensi naik untuk perdagangan hari ini yaitu: BBCA, BBNI, ADRO, SRTG, JSMR, MDKA,” tambah Reliance Sekuritas.

ADVERTISEMENT

IHSG diperdagangkan mixed pada perdagangan kemarin dan ditutup melemah ke level 6.801 (0,13%). Pelemahan IHSG didorong oleh outflow asing yang masih tinggi di tengah penurunan yield obligasi US dan didorong oleh aksi ambil untung oleh investor.

Beberapa sektor yang mengalami pelemahan diantaranya sektor teknologi (2,09%), sektor keuangan (0,46%) dan sektor konsumen (0,39%). Investor asing tercatat masih membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 696,36 miliar dengan saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing diantaranya adalah BBCA, GOTO, BBRI.

Sementara itu dari bursa AS, ketiga indeks utama bergerak mixed. Namun kompak ditutup melemah. Pelemahan didorong oleh hasil keputusan The Fed yang kembali menaikan suku bunga sebesar 50 bps ke level 4.5% atau sejalan dengan perkiraan pasar. Namun The Fed masih akan mempertahankan target untuk menurunkan inflasi ke level 2% sehingga masih ada kekhawatiran bahwa suku bunga yang tinggi akan bertahan hingga akhir tahun depan.

Dari bursa Asia, pada pagi ini telah diperdagangkan melemah, saat laporan ini ditulis index Nikkei 225 melemah (0,30%), diikuti index Kospi melemah (0,49%). Pada pagi ini jepang merilis neraca dagang bulan November yang tercatat membaik.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 18 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 50 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia