Jumat, 15 Mei 2026

Masuki Tren Bearish, Harga CPO Berguguran

Penulis : Indah Handayani
16 Des 2022 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Panenan sawit. Foto: DEFRIZAL
Panenan sawit. Foto: DEFRIZAL

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives berguguran pada perdagangan Kamis (15/12/2022). Mengakhiri penguatan yang terjadi dalam dua hari beruntun. Hal ini diperkirakan karena harga CPO memasuki tren bearish.  

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Kamis (15/12/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember 2022 stagnan di 3.885 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 merosot 68 Ringgit Malaysia menjadi 3.841 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Februari 2023 rontok 72 Ringgit Malaysia menjadi 3.878 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 terkoreksi 74 Ringgit Malaysia menjadi 3.894 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Serta, kontrak pengiriman April 2023 menurun 77 Ringgit Malaysia menjadi 3.887 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Mei 2023 terpeleset 75 Ringgit Malaysia menjadi 3.872 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, Harga CPO hari ini terpantau bergerak dalam tren bearish. Sentimen penggerak utamanya dipicu potensi penurunan permintaan CPO oleh India yang saat ini mengalami suhu yang lebih dingin, di mana situasi ini biasanya membuat CPO kurang diminati karena sifatnya yang dapat mengeras saat suhu lebih dingin.

“Untuk potensi level resistance terdekat berada di harga 4.250 Ringgit Malaysia per ton, dan level support terdekat di harga 3.750 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, Kamis (15/12/2022).

Yoga menjelaskan, melihat indikator pasar saat ini, kemungkinan harga CPO jelang akhir pekan masih berpotensi bergerak bearish. Untuk indikator yang dipantau adalah rilisnya data ekspor CPO Malaysia, perubahan kebijakan terkait ekspor di negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia, serta situasi di pasar minyak nabati.

“Untuk level resistance di kisaran harga 4.250 – 4.500 Ringgit Malaysia per ton, dan level support di kisaran harga 3.750 – 3.500 Ringgit Malaysia per ton,” tutup Yoga.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia