Indikator Ini Jadi Penentu Harga CPO Sepekan
JAKARTA, investor.id – Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, indikator-indikator ini akan menjadi penentu harga CPO sepekan ke depan. Indikator tersebut mulai dari rilisnya data ekspor CPO Malaysia, perubahan kebijakan terkait ekspor di negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia, serta situasi di pasar minyak nabati.
“Berdasarkan indikator-indikator tersebut, harga CPO diperkirakan akan berada di resistance 4.250 – 4.500 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan support di kisaran harga 3.750 – 3.500 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.
Yoga menambahkan, harga CPO pekan ini juga akan dipengaruhi oleh negara-negara pengimpor. Sebut saja India dan Tiongkok. Untuk India, ada potensi terjadi penurunan permintaan di bulan Desember ini karena suhu yang lebih dingin di India membuat CPO kurang diminati karena sifatnya yang dapat mengeras saat bertemu suhu lebih dingin.
“Permintaan dari negara importir kemungkinan akan kembali naik di bulan Januari nanti karena ada perayaan Tahun Baru China, yang biasanya mendorong peningkatan konsumsi CPO,” tambah Yoga.
Tidak hanya itu, lanjut dia, harga CPO juga akan dipengaruhi oleh harga minyak kedelai yang berpotensi bergerak pada tren bearish. Hal ini dipengaruhi oleh indikator perkembangan situasi di Tiongkok, ancaman cuaca kering di negara produsen utama, kebijakan biofuel di negara produsen utama seperti AS, dan situasi di pasar CPO.
“Untuk harga minyak Kedelai diperkirakan akan bergerak pada level resistance di kisaran harga US$ 65 - 70 per pound, dan level support di kisaran harga US$ 60 - 55 per pound,” tambah Yoga.
Yoga menambahkan, efek dari resesi akan berdampak pada penurunan permintaan ke hampir semua komoditas, termasuk CPO. Saat permintaan menurun ini tentunya juga akan mengerek harga komoditas terkait ikut turun. Sehingga hal tersebut merupakan suatu kondisi pasar yang wajar terjadi.
Baca Juga:
Produktivitas dan Hilirisasi SawitPada pekan lalu, harga CPO turun hingga 3%. Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives basis mingguan periode 9 – 16 Desember 2022. Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari 2023 turun 85 Ringgit Malaysia (2,2%) menjadi 3.863 Ringgit Malaysia per ton. kontrak pengiriman CPO untuk Februari 2023 merosot 105 Ringgit Malaysia (2,7%) menjadi 3.890 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka CPO pengiriman Maret 2023 terkoreksi 114 Ringgit Malaysia (2,91%) menjadi 3.918 Ringgit Malaysia per ton. Pada April 2023 menurun 118 Ringgit Malaysia (3,01%) menjadi 3.917 per ton.
Sementara itu, Kontrak berjangka CPO pengiriman Mei 2023 melemah 125 Ringgit Malaysia (3,21%) menjadi 3.900 Ringgit Malaysia per ton. Serta, Juni 2023 turun 117 Ringgit Malaysia (3,02%) menjadi 3.877 Ringgit Malaysia per ton.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






