Jumat, 15 Mei 2026

Info Terbaru Proyek Baterai EV Antam dengan CATL dan LG

Penulis : Muawwan Daelami
28 Des 2022 | 08:00 WIB
BAGIKAN
Seorang pekerja tambang PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menunjukkan bijih nikel yang siap diolah menjadi feronikel. ANTARA/HO-Antam
Seorang pekerja tambang PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menunjukkan bijih nikel yang siap diolah menjadi feronikel. ANTARA/HO-Antam

JAKARTA, Investor.id - PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) masih terus bernegosiasi dengan dua mitra strategis, yakni Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL) dan LG Energy Solution  (LGES), terkait realisasi proyek baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Hal ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan framework agreement (FA) Antam dengan CATL melalui anak usahanya PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL) dan LGES.

"Saat ini, proses negosiasi untuk mendapatkan win-win agreement dengan mitra strategis masih berlangsung," ucap Sekretaris Perusahaan Antam Syarif Faisal Alkadrie kepada Investor Daily, Senin (26/12).

Meski masih dalam proses negosiasi, Faisal menerangkan, pada prinsipnya, melalui kerja sama ini, Antam berharap dapat mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai salah satu pemain baterai EV besar di dunia sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekosistem EV dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Bukan hanya itu, dia menuturkan, perseroan meyakini, kemitraan dengan perusahaan asal Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel) tersebut bakal meningkatkan serapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan daya saing industri EV dalam negeri dan penggunaan baterai untuk kebutuhan lainnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Antam Nico Kanter menargetkan, perseroan akan menuntaskan finalisasi kerja sama dengan para mitra strategis tersebut akhir 2022. Saat ini, perseroan masih dalam proses perhitungan sumber daya nikel yang akan dikerjasamakan dengan dua mitra strategis itu.

Sebab, kata dia, merujuk kerja sama Antam dan CBL serta LGES, ada sumber daya Antam yang dikonversi menjadi cadangan. Karena itu, perseroan tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil persetujuan.


“Ini harus kita kalkulasi, karena kami akan divestasikan sebanyak 49% dari resources ke mitra strategis. Artinya, kami tetap memiliki mayoritas cadangan itu. Dari hasil itu, baru kami akan monetisasi,” tambah Nico.

Dengan cara tersebut, Nico menyebut, perseroan akan mendapatkan ekuitas untuk penyertaan modal. “Jadi, nanti untuk pembangunan smelter melalui sistem rotary kiln electric furnace (RKEF) dan high pressure acid leaching (HPAL) kita tidak perlu mengeluarkan tambahan modal," tutup dia.

ADVERTISEMENT

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia