Jumat, 15 Mei 2026

Babak Baru Garuda Indonesia (GIAA)

Penulis : Thresa Sandra Desfika
4 Jan 2023 | 16:06 WIB
BAGIKAN
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). (Ilustrasi/Ist)
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). (Ilustrasi/Ist)

JAKARTA, investor.id - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) telah memasuki babak baru dengan dirampungkannya restrukturisasi juga diikuti dengan pencabutan suspensi saham pada 3 Januari 2023.

Garuda mencatatkan pembukuan kinerja positif pada 2022, di mana perseroan berhasil menekan utang hingga 50%, serta konsistensi pertumbuhan kinerja positif sejak pertengahan 2022 lalu menjadi dasar iklim kinerja yang positif di tahun 2023 ini. Hingga kuartal III-2022 maskapai pelat merah tersebut telah membukukan laba hingga US$ 3,7 miliar

Pengamat BUMN, Toto Pranoto menilai, Garuda Indonesia baru saja menyelesaikan kesepakatan dengan semua kreditur terkait penyelesaian utang perseroan. Dengan bisnis yang mulai berjalan normal kembali, fundamental kinerja yang semakin sehat, bahkan kondisi domestik Indonesia terjadi over demand, tentu ini hal positif buat restrukturisasi yang dijalankan Garuda Indonesia.

ADVERTISEMENT

“Kami melihat perbaikan kinerja dan kesepakatan dengan para kreditur menjadi sebagian alasan suspensi saham Garuda Indonesia bisa dilepas. Apabila kinerja per kuartal bisa menunjukan perbaikan, ada harapan muncul trust investor untuk memegang kembali saham dan diharapkan saham maskapai pelat merah ini dapat terbang tinggi. Ini tentunya membutuhkan waktu mengingat tren pergerakan saham baru dibuka pada awal pekan ini” katanya kepada wartawan dikutip Rabu (4/1/2023).

Ia juga memberikan masukan bahwa sebagai BUMN terbuka maka syarat perbaikan governance menjadi syarat mutlak ke depan. Di mana hal ini akan menumbuhkan kepercayaan dalam perbaikan kinerja perusahaan. Dengan manajemen lebih baik, diharapkan potensial market domestik dan market captive di angkutan haji dan umrah bisa jadi lokomotif perbaikan kinerja.

Pada kesempatan terpisah, Pengamat Pasar Modal, Wahyu Laksnono mengatakan bahwa dirampungkannya penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) menjadi sebuah tahapan penting bagi Garuda untuk semakin memperkuat landasan kinerja usahanya.

“Saya melihat PKPU itu meringankan beban Garuda Indonesia dan diharapkan hal ini membuat maskapai pelat merah ini makin ringan terbangnya. Bahkan saya berharap Garuda Indonesia makin tinggi terbangnya. Di mana cost structure jelas makin support, semoga makin sehat,” katanya.

Namun pria yang juga founder Traderindo.com mengakui bahwa untuk membuat sehat sebuah korporasi yang telah lama sakit itu membutuhkan waktu, yang tidak serta merta disuntikan bantuan langsung sehat, terlebih lagi isu kesehatan keuangan Garuda Indonesia ini ceritanya panjang dan seperti sudah jadi kutukan salah satu aset BUMN.

“Jika fundamental membaik, saya yakin saham yang sudah bebas suspensi bisa jadi akan memicu minat publik untuk berinvestasi dalam jangka menengah maupun jangka panjang. Lagi-lagi semuanya perlu waktu, dan semoga perjalanannya makin baik jadi sahamnya pun bisa makin menarik dan makin naik sejalan dengan menguat nya kapitalisasi pasar Garuda Indonesia,” katanya.

Sebelumnya Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan sejumlah tahapan strategis telah dilalui pihak dalam merampungkan proses restrukturisasi ini, mulai dari perolehan putusan homologasi atas perjanjian perdamaian oleh PN Jakarta Pusat, termasuk di dalamnya memaksimalkan langkah renegosiasi beban sewa pesawat, restrukturisasi hutang jangka panjang, serta instrumen kewajiban usaha lainnya.

“Selain itu, maskapai pelat merah itu juga secara resmi telah menerima dana Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 7,5 triliun sebagai dukungan terhadap langkah penyehatan kinerja Garuda sebagai national flag carrier. PMN tersebut berkaitan dengan langkah rights issue dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 39.788.136.675 lembar saham atau senilai Rp 7,79 triliun. Itu meliputi realisasi PMN serta partisipasi pemegang saham lainnya,” katanya.

Irfan juga menjelaskan tahapan ini yang kemudian dilanjutkan dengan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD), di mana Garuda Indonesia telah melakukan pendistribusian saham dalam rangka konversi utang sebesar 25.806.070.908 lembar saham atau senilai Rp 5,05 triliun, termasuk didalamnya realisasi obligasi wajib konversi.

“Dengan serangkaian pendistribusian saham baru tersebut, Garuda saat ini memiliki komposisi kepemilikan saham yang terdiri atas kepemilikan pemerintah sebesar 64,54 persen, Trans Airways 7,99 persen, saham publik 4,83 persen, serta saham kreditur 22,63 persen,” tutupnya.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia