Harga Minyak Bakal Lanjutkan Penguatan
JAKARTA, investor.id - Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga minyak akan di perdagangkan melebar tapi condong menguat pada perdagangan Kamis (12/1/2023). Harga minyak bakal diperdagangkan di rentang US$ 73,55 - 77,90 per barel.
Ibrahim menjelaskan, harga minyak secara luas stabil pada Rabu (11/1/2023). Karena pelaku pasar ditarik ke arah yang berbeda oleh peningkatan tak terduga dalam persediaan minyak mentah dan bahan bakar AS, ketidakpastian ekonomi global dan Tiongkok membuka kembali ekonominya.
Stok minyak mentah AS melonjak 14,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 6 Januari, kata sumber, mengutip data dari American Petroleum Institute (API). Pada saat yang sama, stok sulingan naik sekitar 1,1 juta barel.
“Pasar minyak telah ditarik lebih rendah oleh kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga yang tajam untuk menjinakkan inflasi akan memicu resesi dan mengurangi permintaan bahan bakar. Data inflasi AS akan dirilis pada hari Kamis,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (12/1/2023).
Analis dan komisaris PT Orbi Trade Berjangka Vandy Cahyadi mengatakan, jika inflasi datang di bawah ekspektasi yang akan mendorong dolar turun, kata analis. Dolar yang lebih lemah dapat meningkatkan permintaan minyak karena membuat komoditas lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.
Harga tidak melonjak tetapi mendapat dukungan dari harapan pertumbuhan permintaan bahan bakar di Tiongkok, konsumen minyak terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, setelah mengurangi pembatasan Covid-19 dan meningkatkan kuota impor minyak mentah sebesar 20%.
" Berita hari Senin bahwa Tiongkok telah mengeluarkan kuota impor baru menunjukkan importir besar dunia meningkat untuk memenuhi permintaan yang lebih tinggi dan pasar menyadari bahwa kembalinya Tiongkok ke keadaan normal tidak akan cukup untuk mendorong minyak kembali di atas U$100 per barel secara berkelanjutan," kata Vandy.
Sedangkan, lanjut dia, yang dibutuhkan adalah perbaikan pertumbuhan global. Namun prospek ekonomi dunia dibatasi oleh inflasi yang tinggi dan kondisi kredit yang semakin ketat.
Inflasi CPI secara luas diperkirakan telah mereda lebih lanjut pada bulan Desember dari bulan sebelumnya, mengurangi tanggung jawab Fed untuk terus menaikkan suku bunga. Tren penurunan inflasi yang berkelanjutan diperkirakan akan memacu The Fed untuk akhirnya menghentikan siklus kenaikan suku bunga.
“Tetapi mengingat inflasi masih jauh di atas kisaran target tahunan The Fed, pasar tetap tidak yakin kapan bank sentral dapat memutuskan untuk menghentikan kenaikan suku bunga,” tutup Vandy.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi
Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas AntamDPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Tag Terpopuler
Terpopuler






