Dana Asing Rp 25 Triliun Keluar dari Pasar Saham
13 Jan 2023 | 04:41 WIB
JAKARTA, investor.id – Dana asing tercatat keluar (capital outflow) dari pasar saham sekitar US$ 1,61 miliar atau Rp 25,1 triliun selama November 2022 hingga 12 Januari 2023, dibandingkan modal asing masuk (capital inflow) sebesar US$ 2,1 miliar selama semester II-2021 dan US$ 4 miliar selama Januari-Oktober 2022. Tak ayal lagi, hal ini memukul indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan laporan riset Mandiri Sekuritas, per 11 Januari 2023, IHSG, IDX80, dan indeks LQ45 turun masing-masing 3,9%, 4,1%, dan 4,5% secara year to date (ytd). Sementara itu, November 2022, IHSG, IDX80, dan LQ45 turun masing-masing 0,2%, 1,4%, dan 0,6%, sedangkan Desember 2022 sebesar 3,3%, 7,4%, dan 7,1%.
Sejumlah kalangan menilai, dana asing hengkang dari pasar saham Indonesia menuju pasar yang menjanjikan return besar, seperti Asia Utara. Hal itu terkonfirmasi pada tumbuhnya indeks-indeks saham di Kawasan itu. Per 11 Januari 2023, indeks CSI 300 Tiongkok melejit 14,2%, Hang Seng Hong Kong 8,4%, Nikkei Jepang 1,3%, Kospi Korea Selatan 5,5%, dan TAIEX Taiwan 4,3%.
Memang, IHSG bangkit (rebound) pada perdagangan kemarin, dengan kenaikan 0,69% ke level 6.629, didorong penguatan saham-saham perbankan. Akan tetapi, analis menilai, kenaikan ini lebih dipicu rebound teknikal. Sebab, di tengah penguatan indeks, asing masih membukukan net sell Rp 462 miliar. Artinya, prospek pasar saham semester I tahun ini masih berat.
Berdasarkan data BEI, saham BBRI menjadi penggerak (mover) IHSG kemarin, setelah menguat 2,7% ke level Rp 4.500 dan menyumbangkan kenaikan indeks 14,8 poin, diikuti BMRI sebesar 11,88 poin, ASII 5,88 poin, GOTO 5,71 poin, dan ARTO 4,14 poin. Pemberat bursa adalah saham-saham batu bara, yakni BYAN dengan kontribusi penurunan 14 poin, ADRO 3 poin, BUMI 1,7 poin, TLKM 1,22 poin, dan ITMG 1,21 poin. Hingga kemarin, IHSG melemah 3,22% secara ytd. Market cap BEI mencapai Rp 9.176 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, rebound indeks kemarin bersifat teknikal, karena sudah mendekati support di 6.630. Pelaku pasar tetap dapat mencermati area support indeks di 6557 dan 6509.
Sementara itu, pelemahan IHSG secara ytd masih sejalan dengan prediksi Herditya. Hal itu dipicu keluarnya dana asing selama sepekan.
“Kami perkirakan, outflow asing terjadi karena adanya re-opening Tiongkok. Artinya, dana asing berpindah ke sana dan diperkirakan ada shifting ke aset investasi dengan risiko yang lebih rendah,” kata dia kepada Investor Daily, Kamis (12/1/2023).
Seiring dengan itu, dia memprediksi koreksi IHSG masih rawan berlanjut untuk menguji level 6.530 terlebih dahulu, dengan support di 6.509. Dalam skenario terburuk, indeks bisa menuju ke 6.430, jika support tertembus.
Namun, dia menerangkan, jika mampu bertahan di atas support, indeks berpeluang menguat ke 6.630-6.730. Dalam kondisi ini, investor disarankan trading jangka pendek dahulu.
“Saham-saham rekomendasi kami adalah BBRI, UNVR, dan MDKA, dengan target harga Rp 4.590, UNVR Rp 4.850, dan MDKA Rp 4.750,” kata dia.
Volatilitas Tinggi
Di sisi lain, Mandiri Sekuritas menilai, volatilitas IHSG masih tetap tinggi ke depan, seiring berkurangnya daya tarik saham-saham Indonesia. Ini tak lepas dari dibukanya kembali ekonomi Tiongkok dan ekspektasi penurunan harga komoditas andalan Indonesia.
Akan tetapi, broker itu menilai, koreksi besar membuat valuasi IHSG kini menarik. Saat ini, PER IHSG mencapai 13,5 kali atau di bawah 1,6 kali standar deviasi rata-rata lima tahun. Sementara itu, PER indeks LQ45 kini hanya 13,9 kali atau 1,4 kali di bawah standar deviasi.
Mandiri Sekuritas mencatat, setelah laba bersih per saham (EPS) tumbuh tinggi selama dua tahun, didorong commodity super-cycle, tahun ini, EPS diprediksi mengalami normalisasi. Mandiri Sekuritas memprediksi EPS 2023 perusahaan-perusahaan yang diriset hanya 2%.
“Bahkan, saham komoditas tahun ini diprediksi mencetak penurunan EPS,” tulis Mandiri Sekuritas.
Sementara itu, tulis Mandiri Sekuritas, emiten di luar komoditas diprediksi bisa mencetak pertumbuhan laba bersih 17% tahun ini. Adapun secara fundamental, ekonomi Indonesia lebih kebal, dibandingkan ekonomi gobal. Rupiah diprediksi mulai menguat semester II tahun ini, sedangkan neraca transaksi berjalan diprediksi defisit 0,7%, lebih rendah dibandingkan prapandemi di atas 2%.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






