Jumat, 15 Mei 2026

Saratoga (SRTG) Disebut Mirip Berkshire Hathaway, seperti Apa Bisnisnya?

Penulis : Primus Dorimulu / Muawwan Daelami
17 Jan 2023 | 22:02 WIB
BAGIKAN
Michael Soeryadjaya, Presiden Direktur PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).
Michael Soeryadjaya, Presiden Direktur PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

JAKARTA, investor.id – Sebagai perusahaan investasi yang mirip Berkshire Hathaway milik superinvestor Warren Buffett, kegiatan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) lebih ke anak perusahaan.

Saratoga memilih perusahaan di sektor yang bertumbuh, yakni energi, infrastruktur telekomunikasi, logistik, kesehatan, dan digital. Energi yang dikembangkan tidak hanya batu bara, tapi juga energi terbarukan. “Sektor usaha yang kami masuki masih oke,” kata Michael Soeryadjaya, presiden direktur Saratoga Investama Sedaya, saat berdiskusi dengan sejumlah pemimpin redaksi di Jakarta, Senin (16/1/2023).

Menurut dia, sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat, permintaan terhadap energi, telekomunikasi, kesehatan, dan layanan logistik akan makin besar. Dia yakin, ekonomi Indonesia akan membaik karena pemerintah cukup tepat dan serius membangun fondasi pembangunan ekonomi.

ADVERTISEMENT

Ke depan, kata Michael, Saratoga membidik perusahaan yang memiliki prospek cerah di bidang energi terbarukan. Tidak perlu mayoritas. Sebab memiliki saham 7-8% di perusahaan energi terbarukan sudah bagus. Saat ini, kepemilikan Saratoga kebanyakan di bawah 7%. Tapi, Saratoga masuk bersama rekan bisnis.

“Di Adaro, misalnya Pak Boy, Keluarga Pak TP Rahmat kita 60%, di Tower Bersama dengan partner kita juga sekitar 60%. Jadi, bukan kami harus mayoritas, tapi selama partner kami merupakan orang-orang dengan filosofi yang mirip dan investasi mereka longterm, kami oke,” papar Michael.

Dia pun menyebut Saratoga mirip Berkshire Hathaway. “Kalau melihat Berkshire Hathaway, kami juga mirip. Saham Berkshire Hathaway di Apple tidak sampai 5%, di Coca-Cola dan American Express, juga demikian. Selama prospek bisnisnya bagus, manajemen dan mitranya bagus, kami bisa bekerja sama, kami masuk,” ungkap Michael.

Saratoga sudah sejak lama memasuki bisnis renewable energy. Terakhir, emiten berkode saham SRTG ini turut membangun proyek geotermal PLTP Sarulla. “Kalau tidak salah itu geotermal baru. Saat itu, belum ada yang besar. Kami mulai sejak tahun 2012, join dengan Medco, fifthy-fifthy. Sekarang PLTP itu sudah produksi sekitar 300 MW,” paparnya.

Namun, dia menyayangkan bahwa mencari proyek renewable energy yang besar dan skala komersialnya menarik, tergolong sulit.

Sejak tahun 2016 sampai sekarang, proyek-proyek baru di bidang renewable energy yang dimasuki Saratoga belum banyak. Pihaknya akan terus mencari peluang. Semua negara berlomba mengembangkan energi terbarukan, apalagi harga solar panel semakin rendah.

“Hanya saja, dua tahun ini banyak hujan dan mendung. Beda dengan di California, Arab Saudi, dan Tiongkok. Di sana, kadang-kadang harga solar energi sama dengan batu bara, kadang-kadang malah lebih murah,” jelasnya.

Saratoga lewat Adaro akan membangun energi terbarukan di Kalimantan Utara. Ada PLTA dalam skala besar. Selain itu, Adaro membangun pabrik smelter nikel dan pabrik baterai. Michael mengakui, dalam dua tahun terakhir, pihaknya tidak terlalu agresif membangun bisnis digital. “Kami berusaha masuk ke perusahaan digital yang real. Itu mungkin by design karena kami kepingin. Tapi, valuasinya sangat tinggi,” tuturnya.

Saratoga Group yang didirikan tahun 1997 kini berusia 25 tahun. Investasi pertama adalah di saham Adaro Group tahun 2002. Pada tahun 2004, Saratoga dan Provident Capital berinvestasi di perusahaan menara independen, yakni PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Kemudian, pada tahun 2008, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menjadi perusahaan terbuka lewat IPO senilai Rp 12,2 triliun. Pada 2010, Saratoga berinvestasi di PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) dan di tahun yang sama, Tower Bersama Infrastructure melangsungkan IPO dan tercatat di BEI.

Pada 2012, Saratoga membeli saham PT Merdeka Gold Copper Tbk (MDKA), perusahaan emas dan tembaga yang sedang berkembang. Perusahaan ini IPO dan listed di BEI pada 2015.

Pada 2013, SRTG dan Mitra Pinasthika Mustika (MPMX) IPO dan tercatat di BEI. Pada 2016, Saratoga berinvestasi di Primaya Hospital dan MGM Bosco Logistics (logistik rantai dingin). Pada 2017, Saratoga berinvestasi di Deltomed Laboratories (produsen obat herbal). Pada tahun yang sama, Saratoga divestasi saham Lintas Marga Sedaya (perusahaan jalan tol) dan Medco Power Indonesia (perusahaan pembangkit listrik).

Lalu, pada tahun 2018, Saratoga berinvestasi di PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII) dan divestasi kepemilikan sahamnya di Paiton Energy (perusahaan pembangkit listrik). Pada 2019, Saratoga berinvestasi di Julo, start-up fintech yang memanfaatkan big data dan machine learning dalam proses penjaminan ke konsumen.

Saratoga kemudian meningkatkan kepemilikannya di MGM Bosco Logistics pada tahun 2020. Sedangkan pada 2021, Saratoga berinvestasi di Sirclo (e-commerce enabler) dan Fuse (insuretech) untuk mengembangkan portofolio di sektor teknologi digital.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia