Sentimen Ini Bakal Bikin Harga Minyak Menguat
JAKARTA, investor.id – Harga minyak diprediksi menguat pada perdagangan Kamis (19/1/2023). Harga minyak akan di perdagangkan menguat di rentang US$ 80,35 - 83,30 per barel. Hal ini dipengharuhi oleh beberapa sentimen, salah satunya pencabutan pembatasan Covid-19 di Tiongkok.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan, harga minyak naik pada hari Rabu ke level tertinggi sejak awal Desember di tengah optimisme bahwa pencabutan pembatasan ketat Covid-19 Tiongkok akan menyebabkan pemulihan permintaan bahan bakar di importir minyak utama dunia.
Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat tajam menjadi 3% pada tahun 2022, meleset dari target resmi ‘sekitar 5,5%’ dan menandai kinerja terburuk kedua sejak 1976. Tetapi data tersebut masih mengalahkan perkiraan analis setelah Tiongkok mulai membatalkan kebijakan nol-Covid pada awal Desember.
“Analis yang disurvei oleh Reuters melihat pertumbuhan 2023 rebound menjadi 4,9%,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (19/1/2023).
Analis dan komisaris PT Orbi Trade Berjangka Vandy Cahyadi menjelaskan, pencabutan pembatasan Covid-19 di Tiongkok akan meningkatkan permintaan minyak global tahun ini ke rekor tertinggi baru, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada hari Rabu, sementara sanksi batas harga terhadap Rusia dapat mengurangi pasokan.
Laporan IEA mengikuti ekspektasi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa permintaan minyak Tiongkok akan tumbuh sebesar 510 ribu barel per hari (bpd) tahun ini setelah mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun pada tahun 2022 karena tindakan pencegahan Covid.
“Tetapi OPEC mempertahankan perkiraan pertumbuhan permintaan global 2023 tidak berubah,’ jelas Vandy.
Mengacu ke Tiongkok, lanjut Vandy, tidak ada entitas tunggal lain yang akan memainkan peran yang lebih signifikan dalam membentuk neraca minyak selama beberapa bulan mendatang, apalagi membaiknya permintaan minyak 500 ribu barel perhari pertanda positif untuk pasar.
Dukungan lebih lanjut datang dari ekspektasi penarikan stok minyak mentah AS sekitar 1,8 juta barel dalam seminggu hingga 13 Januari, menurut jajak pendapat Reuters. Jajak pendapat dilakukan sebelum laporan dari American Petroleum Institute, sebuah kelompok industri, dijadwalkan pada pukul 16:30. ET (2130 GMT) pada hari Rabu.
Di sisi pasokan, produksi minyak dari wilayah serpih teratas di Amerika Serikat akan naik sekitar 77.300 barel per hari ke rekor 9,38 juta barel per hari pada Februari, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan pada Selasa.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






