Harga CPO Lanjutkan Penguatan
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives lanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (19/1/2023). Dengan demikian, harga CPO menguat dalam dua hari beruntun. Setelah mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (18/1/2023).
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Kamis (19/1/2023), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Februari 2023 naik 28 Ringgit Malaysia menjadi 3.887 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 menguat 29 Ringgit Malaysia menjadi 3.888 Ringgit Malaysia per ton.
Baca Juga:
Harga CPO MenguatSementara itu, kontrak pengiriman April 2023 terkerek 22 Ringgit Malaysia menjadi 3.889 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Mei 2023 meningkat 13 Ringgit Malaysia menjadi 3.885 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman Juni 2023 bertambah 9 Ringgit Malaysia menjadi 3.875 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Juli 2023 stagnan di 3.863 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO terpantau mengalami naik karena dipengaruhi oleh beberapa sentimen. Sentimen utama yang mempengaruhi adalah tren bullish di pasar minyak nabati serta ditambah dengan pernyataan dari Menteri Perdagangan terkait rencana untuk meluncurkan acuan harga CPO pada bulan Juni nanti.
Dari pernyataan tersebut, lanjut Yoga, memicu keyakinan akan berpotensi membuat pasokan CPO Indonesia ikut terdampak, terlebih dengan adanya rencana peningkatan konsumsi CPO domestik dalam bentuk B35 pada 1 Februari mendatang. “Harga CPO bergerak pada resistance 4.100 Ringgit Malaysia per ton, dan support 3.600 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, Kamis (19/1/2023).
Yoga memprediksi, pergerakan harga CPO besok berpotensi bergerak datar atau tidak terlalu berfluktuatif. Sentimen utama yang mempengaruhi pastinya adalah karena libur di negara produsen utama yaitu Indonesia dan Malaysia dalam rangka perayaan Imlek. Sehingga, ada potensi peralihan permintaan ke pasar minyak nabati.
Selain itu, Yoga menyebut, ada beberapa indikator yang dipantau oleh pasar seperti rilisnya data ekspor Malaysia, perkembangan rencana pelarangan ekspor CPO Malaysia ke Uni Eropa, perkembangan situasi di Indonesia terutama terkait program B35 serta kebijakan ekspor, situasi di negara importir utama (India, Tiongkok, dan Uni Eropa), dan situasi di pasar minyak nabati.
“Harga CPO jelang akhir pekan ini diperkirakan akan bergerak pada resistance 4.100 – 4.200 Ringgit Malaysia per ton. Apabila menemui katalis negatif, berpotensi turun menuju level support 3.600 – 3.500 Ringgit Malaysia per ton,” tutup Yoga. .
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






