Jumat, 15 Mei 2026

Cetak Sejarah, BNI (BBNI) Bukukan Laba Bersih Rp 18,31 T

Penulis : Nida Sahara
25 Jan 2023 | 04:20 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi BNI. (Foto: Dok. BNI)
Ilustrasi BNI. (Foto: Dok. BNI)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI menutup 2022 dengan mencetak kinerja impresif dan berhasil melampaui konsensus pasar. Emiten berkode saham BBNI itu membukukan laba bersih sebesar Rp 18,31 triliun, melejit 68% secara year on year (yoy). Pencapaian tersebut juga merupakan perolehan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah BNI.

Perolehan laba bersih itu didukung dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tumbuh 8% (yoy) menjadi Rp 41,32 triliun pada 2022. Serta ditopang oleh pendapatan non bunga (fee based income) yang tumbuh 8,7% (yoy) menjadi Rp 14,82 triliun.

Hasil kinerja yang positif ini berdampak pada pre-provisioning operating profit (PPOP) yang dibukukan sebesar Rp 34,4 triliun atau tumbuh 10,8% (yoy). “Pertumbuhan PPOP yang kuat dan diikuti dengan perbaikan kualitas aset ini membuat kami mampu menutup 2022 dengan capaian yang menggembirakan. Laba bersih ini adalah tertinggi sepanjang sejarah dan berada di atas ekspektasi pasar,” ungkap Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam konferensi pers Pemaparan Kinerja Full Year 2022 BNI, Selasa (24/1/2023).

Dari sisi penyaluran kredit, sepanjang 2022 BNI mencatat penyaluran sebesar Rp 646,19 triliun, tumbuh 10,9% (yoy). Angka tersebut diikuti dengan net interest margin (NIM) yang terjaga di posisi 4,8%.

ADVERTISEMENT

Adapun di segmen business banking, BNI semakin aktif dalam memfasilitasi sindikasi dan mampu berkontribusi hampir Rp 1 triliun ke pendapatan non bunga, atau naik 100% dibandingkan tahun lalu.

Korporasi Blue Chip

Direktur Finance BNI (BBNI) Novita Widya Anggraini menambahkan, pertumbuhan kredit BNI sebesar 10,9% (yoy) melebihi guidance yang ditetapkan perusahaan di awal 2022 yakni di kisaran 7-10%. “Pertumbuhan tersebut dicapai di tengah upaya BNI melakukan transformasi dan fokus membangun portofolio kredit yang sehat melalui ekspansi pada debitur top tier di masing-masing industri dan regional,” kata Novita.

Adapun sektor business banking mencatat pertumbuhan 10,3% (yoy) menjadi Rp 532,2 triliun. Pertumbuhan dari segmen tersebut didorong oleh segmen korporasi blue chip yang tumbuh 28,9% (yoy) menjadi Rp 232,7 triliun; segmen large commercial meningkat 29,9% (yoy) menjadi Rp 53,1 triliun; segmen kecil terutama kredit usaha rakyat (KUR) yang tumbuh 19,8% (yoy) menjadi Rp 52,7 triliun.

Sementara di sektor konsumer, kredit payroll masih menjadi fokus dengan pertumbuhan 20,3% (yoy) menjadi Rp 43,1 triliun, kemudian diikuti oleh kredit pemilikan rumah (KPR) yang tumbuh 7,9% (yoy) menjadi Rp 53,5 triliun. “Sehingga secara keseluruhan, kredit konsumer tumbuh 11,2% (yoy) menjadi Rp 110,1 triliun,” ujar Novita.

Di sisi lain, jumlah kredit yang direstrukturisasi dengan stimulus Covid-19 juga terus menurun nilainya menjadi Rp 49,6 triliun atau setara dengan 7,8% dari total kredit. Penurunan di kuartal lalu terutama berasal dari sektor-sektor yang paling terdampak pandemi seperti restoran, hotel, tekstil, dan konstruksi. Rasio loan at risk (LaR) juga ikut membaik menjadi 16%, dibandingkan 2021 yang berada di posisi 23,3%.

Tren positif pada kualitas aset ini juga mendorong pembentukan beban CKPN menjadi lebih rendah sehingga cost of credit membaik dari 3,3% di tahun sebelumnya menjadi 1,9%. Selain itu, upaya perbaikan kualitas kredit melalui kebijakan perkreditan yang efektif mampu menekan rasio NPL sebesar 90 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 2,8%.

Dari sisi likuiditas, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan current account saving account (CASA) yang kuat sebesar 10,1% (yoy), yang dihasilkan dari strategi perseroan untuk membangun transaction-based CASA, melalui penyediaan solusi keuangan dan transaksi yang komprehensif dan reliable. Total dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 5,5% (yoy) mencapai Rp 769,27 triliun.

Inisiatif Digital

Terkait dengan digitalisasi, Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati menyampaikan, BNI fokus menggarap potensi bisnis nasabah di setiap aspek, dengan konsisten meningkatkan kapabilitas digital untuk mengembangkan berbagai solusi keuangan digital yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Dari segmen retail, jumlah user BNI Mobile Banking pada 2022 mencapai 13,6 juta, tumbuh 26,1% (yoy), yang diikuti dengan nilai transaksi yang tumbuh sebesar 30,4% (yoy) menjadi sebesar Rp 802 triliun. Angka itu melampaui transaksi di ATM yang sebesar Rp 676 triliun.

“Hal tersebut menunjukkan nasabah BNI terus men-shifting transaksinya dari platform konvensional ke platform digital. Hal ini sejalan dengan strategi BNI untuk menjadikan BNI Mobile Banking sebagai one stop financial solutions bagi nasabah,” imbuh Susi, sapaan akrab Adi Sulistyowati.

Sedangkan dari segmen wholesale banking, BNI memiliki BNIDirect untuk menunjang transaksi bisnis nasabah dan debitur non perorangan secara digital dan mampu memenuhi semua kebutuhan klien dalam satu portal terintegrasi.

“Sepanjang tahun 2022, tercatat jumlah user BNIDirect tumbuh 24,9% (yoy) menjadi 100.000 user, diikuti oleh pertumbuhan volume transaksi sebesar 47% (yoy) atau setara Rp 6.168 triliun, dengan jumlah transaksi yang juga meningkat 18,4% (yoy) atau mencapai 764 juta transaksi,” urai dia.

Keuangan Berkelanjutan

Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengungkapkan, sebagai bank pionir green banking dan motor penggerak pelaksana keuangan berkelanjutan di Indonesia, perseroan berkomitmen menginternalisasi prinsip keuangan berkelanjutan pada nilai-nilai, budaya kerja, strategi perusahaan, kebijakan operasional, serta sistem dan prosedur operasional perseroan.

Komitmen ini salah satunya diwujudkan dalam Sustainable Portofolio yang BNI lakukan untuk sektor-sektor ramah lingkungan. Sepanjang 2022 pembiayaan pada kategori kegiatan usaha berkelanjutan (KKUB) mencapai Rp 182,9 triliun atau 28,5% dari total portofolio kredit BNI.

Portofolio berkelanjutan ini utamanya diberikan untuk kebutuhan pengembangan ekonomi sosial masyarakat melalui pembiayaan segmen kecil sebesar Rp 123,2 triliun; pengelolaan bisnis ramah lingkungan dan sumber daya alam hayati sebesar Rp 19,7 triliun; energi baru dan terbarukan sebesar Rp 10,9 triliun; pembiayaan untuk pencegahan polusi sebesar Rp 4 triliun; serta sustainable portfolio lainnya sebesar Rp 25,1 triliun.

BNI juga memiliki komitmen untuk mengembangkan praktik usaha berkelanjutan sejalan dengan agenda global. BNI mulai proaktif memperkenalkan sustainability linked loan (SLL), di mana salah satu aspek utama SLL adalah pemberian insentif bagi nasabah untuk memperbaiki aspek ESG dalam bisnis mereka.

Adapun sepanjang tahun 2022, BNI telah menyalurkan SLL sebesar US$ 355 juta atau ekuivalen Rp 5,3 triliun yang disalurkan kepada debitur top tier di sektor industri prioritas, seperti fast-moving consumer goods dan manufaktur.

“Kami juga menawarkan pricing yang menarik sebagai insentif bagi debitur dalam rangka meningkatkan pencapaian aspek ESG dalam bisnis usaha mereka sesuai jangka waktu yang telah disepakati. Untuk jangka panjang, kami ingin terus meningkatkan inisiatif tersebut agar menjadi bank dengan praktik ESG terbaik di Indonesia,” kata David.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia