Kamis, 14 Mei 2026

Minyak Tertekan Kenaikan Produksi Rusia

Penulis : Indah Handayani
10 Feb 2023 | 11:20 WIB
BAGIKAN
ilutrasi harga minyak mentah 
Sumber: Antara
ilutrasi harga minyak mentah Sumber: Antara

JAKARTA, investor.id - Pada Jumat pagi ini (10/2/2023), harga minyak terpantau bergerak tertekan oleh sentimen dari peningkatan produksi minyak Rusia dan meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari Turki pasca gempa. Meski demikian, sinyal positif peningkatan permintaan bahan bakar di Tiongkok memberikan dukungan pada harga minyak.

Tim Research and Development ICDX menjelaskan, di tengah embargo ketat dari Uni Eropa (UE) serta G7, produsen minyak Rusia justru meningkatkan produksi kondensat minyak dan gas sebesar 0,7% menjadi rata-rata 1,491 juta ton atau setara 10,93 juta bph pada minggu pertama Februari, kutip surat kabar harian Kommersant pada hari Kamis.

Selain itu, Rusia juga meningkatkan ekspor serta berencana menerapkan diskon yang lebih besar untuk harga minyak domestik dibanding harga patokan minyak internasional. Peningkatan output paling besar berasal dari proyek Sakhalin-1 yang digarap oleh Rosneft dan memproduksi sekitar 200 ribu bph.

ADVERTISEMENT

Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, BP Azerbaijan yang pada hari Selasa pasca gempa bumi mengumumkan force majeure untuk pengiriman minyak mentah Azeri dari pelabuhan Turki Ceyhan, pada hari Kamis mengatakan bahwa minyak mentah Azeri tetap mengalir, meskipun untuk kegiatan ekspor masih tetap dihentikan. Seorang agen pengiriman mengatakan bahwa dibutuhkan waktu untuk memulai ekspor kembali dalam 2 hari hingga 10 hari.

“Berita tersebut mengindikasikan bahwa gempa yang berlangsung pada Senin pagi tersebut tidak sampai menyebabkan kerusakan fatal pada jaringan pipa dan infrastruktur lainnya secara serius,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (10/2/2023).

Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menambahkan, permintaan minyak mentah di Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan terutama dalam bentuk bahan bakar, seiring dengan meningkatnya aktivitas perjalanan pasca pencabutan kebijakan zero-Covid.

Produk turunan minyak dari Rusia ke Tiongkok meningkat tajam ke rekor tertinggi pada bulan Januari dengan total impor sebesar 3.89 juta barel, kutip data dari Kpler, konsultan terkemuka untuk sektor komoditas. Kpler juga menambahkan bahwa angka tersebut berpotensi terlampaui pada bulan Februari ini, dengan total volume yang dilacak oleh Kpler di angka 6.75 juta barel.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$75 per barel,” tutupnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 12 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 29 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 59 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia