Minyak Tertekan Kenaikan Produksi Rusia
JAKARTA, investor.id - Pada Jumat pagi ini (10/2/2023), harga minyak terpantau bergerak tertekan oleh sentimen dari peningkatan produksi minyak Rusia dan meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari Turki pasca gempa. Meski demikian, sinyal positif peningkatan permintaan bahan bakar di Tiongkok memberikan dukungan pada harga minyak.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, di tengah embargo ketat dari Uni Eropa (UE) serta G7, produsen minyak Rusia justru meningkatkan produksi kondensat minyak dan gas sebesar 0,7% menjadi rata-rata 1,491 juta ton atau setara 10,93 juta bph pada minggu pertama Februari, kutip surat kabar harian Kommersant pada hari Kamis.
Selain itu, Rusia juga meningkatkan ekspor serta berencana menerapkan diskon yang lebih besar untuk harga minyak domestik dibanding harga patokan minyak internasional. Peningkatan output paling besar berasal dari proyek Sakhalin-1 yang digarap oleh Rosneft dan memproduksi sekitar 200 ribu bph.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, BP Azerbaijan yang pada hari Selasa pasca gempa bumi mengumumkan force majeure untuk pengiriman minyak mentah Azeri dari pelabuhan Turki Ceyhan, pada hari Kamis mengatakan bahwa minyak mentah Azeri tetap mengalir, meskipun untuk kegiatan ekspor masih tetap dihentikan. Seorang agen pengiriman mengatakan bahwa dibutuhkan waktu untuk memulai ekspor kembali dalam 2 hari hingga 10 hari.
“Berita tersebut mengindikasikan bahwa gempa yang berlangsung pada Senin pagi tersebut tidak sampai menyebabkan kerusakan fatal pada jaringan pipa dan infrastruktur lainnya secara serius,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (10/2/2023).
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menambahkan, permintaan minyak mentah di Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan terutama dalam bentuk bahan bakar, seiring dengan meningkatnya aktivitas perjalanan pasca pencabutan kebijakan zero-Covid.
Baca Juga:
Minyak Bakal Lanjut Menguat Hari IniProduk turunan minyak dari Rusia ke Tiongkok meningkat tajam ke rekor tertinggi pada bulan Januari dengan total impor sebesar 3.89 juta barel, kutip data dari Kpler, konsultan terkemuka untuk sektor komoditas. Kpler juga menambahkan bahwa angka tersebut berpotensi terlampaui pada bulan Februari ini, dengan total volume yang dilacak oleh Kpler di angka 6.75 juta barel.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$75 per barel,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler






