Jumat, 15 Mei 2026

Vale (INCO) Mulai Garap Proyek Tambang dan Smelter Nikel Rp 37 T

Penulis : Zsazya Senorita
13 Feb 2023 | 04:00 WIB
BAGIKAN
Kegiatan di pabrik nikel Vale Indonesia. Foto: BeritaSatuPhoto/Defrizal
Kegiatan di pabrik nikel Vale Indonesia. Foto: BeritaSatuPhoto/Defrizal

JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mulai menggarap proyek pertambangan dan smelter nikel di Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang menelan investasi Rp 37,5 triliun. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama di lokasi pertambangan dan smelter tersebut.

Smelter itu akan dibangun dan dioperasikan oleh PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia atau BNSI, perusahaan patungan Vale Indonesia dengan Tisco and Xin Hai dan menggunakan  teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), yang mengolah bijih nikel menjadi feronikel berkapasitas 73 ribu ton per tahun.

Vale memegang 49% saham perusahaan itu, sedangkan sisanya dipegang Tisco dan Xin Hai.  Smelter itu akan mengolah nikel di tambang Bahodopi, Sulteng, yang dimiliki Vale Indonesia  100%.

ADVERTISEMENT

Pembangunan proyek pertambangan dan pengolahan nikel rendah karbon terintegrasi di Morowali tersebut diresmikan Jumat (10/2/2023). Lokasi tambang nikel Vale berada di Kecamatan Bungku Timur dan Bahodopi, sedangkan smelter berada di Desa Sambalagi Kecamatan Bungku Pesisir. Perseroan berperan penuh dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas pertambangan, sedangkan BNSI akan membangun dan mengoperasikan smelter.

“Peletakan batu pertama ini memperkuat komitmen kuat kami kepada rakyat Indonesia sambil terus mendorong ke majuan dengan akselerasi yang dilakukan melalui jalur partumbuhan bernilai miliaran dolar kami,” kata Presiden Komisaris Vale Indonesia dan Wakil Presiden Eksekutif Bisnis Base Metal Vale Deshnee Naidoo, Minggu (12/2/2023).

Deshnee optimistis, perseroan dapat mewujudkan proyek kritikal yang akanmenghasilkan nikel rendah karbon dengan aman dan berkelanjutan, serta mendukung rantai pasokan domestik untuk bahan transisi energi dan kendaraan listrik.

CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy memaparkan, smelter yang akan dibangun di Sambalagi menggunakan teknologi RKEF. Selain itu, didukung sumber listrik dari gas alam, smelter ini akan menjadi pabrik yang andal, hemat energi, dan ramah lingkungan.

Pembangkit listrik gas alam, kata dia, akan menjadi kontributor utama untuk mengurangi emisi karbon dari keseluruhan operasi proyek ini. Pengurangan emisi karbon telah menjadi bagian dari peta jalan keberlanjutan Vale Indonesia, dengan target pengurangan emisi karbon hingga 33% pada 2030.

“Kehadiran proyek Morowali adalah representasi komitmen kami menjadi produsen nikel yang andal dan berkelanjutan bagi Indonesia dengan jejak karbon terendah. Kami akan membawa praktik-praktik pertambangan terbaik yang dilakukan di Blok Sorowako ke Morowali. Selain menyukseskan program hilirisasi pemerintah, kami ingin berkontribusi untuk masyarakat dan bumi kita,” ungkap Febriany.

Tahun lalu, pemerintah menetapkan proyek Morowali sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Adapun Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, proyek ini merupakan bentuk dari harapan pemerintah demi terwujudnya hilirisasi sumber daya alam untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia