Jumat, 15 Mei 2026

Harga SUN Diprediksi Kembali Tertekan

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
13 Feb 2023 | 05:00 WIB
BAGIKAN
(B-Universe Photo/David Gita Roza)
(B-Universe Photo/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diprediksi kembali tertekan oleh risiko geopolitik dan meningkatnya imbal hasil (yield) US Treasury (UST) pada pekan ini. Sejalan dengan itu, yield SUN tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak pada rentang 6,53- 6,9%.

Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin  mengemukakan, tensi geopolitik terbaru antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini dikhawatirkan meningkatkan eskalasi perang Rusia dan Ukraina. Secara keseluruhan, ini membuat investor global cenderung risk averse dan mengakibatkan harga minyak untuk bertahan tinggi.

“Kita lihat, pada awal Januari 2022, harga minyak telah turun di bawah US$ 80 per barel. Tapi,  itu kemudian naik menjadi US$ 86,4 per barel pada 10 Februari 2023,” jelas dia kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Ahmad juga mencermati risiko dari tingkat inflasi dan pengangguran. Pada negara adidaya seperti AS, menurunnya inflasi sebenarnya menjadi kabar yang baik. Namun, hal itu tak berbanding lurus dengan data pengangguran yang masih rendah. Dengan ketatnya ketersediaan lapangan kerja, tingkat inflasi akan semakin sulit untuk ditekan.

ADVERTISEMENT

Dengan demikian, tingkat inflasi lebih lama untuk mencapai level target. Pada akhirnya, ini mendorong bank sentral AS The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi saat ini atau bisa dikatakan belum akan menurunkan suku bunga.

“Di AS, misalnya, tingkat inflasi inti masih dua kali lipat dari yang ditargetkan sebesar 2% dan berada pada 5,7% pada Desember 2022,” ujar Ahmad.

Maka dari itu, dia memperkirakan yield SUN 10 tahun pekan ini bergerak di kisaran 6,53-6,81%, setelah pada penutupan minggu lalu berada di 6,67%. Pergerakannya akan cenderung tertekan, karena spekulasi cenderung tinggi.

Sementara itu, dia menegaskan, untuk memenuhi APBN pemerintah, Selasa (14/2/2023) akan menggelar lelang SUN. Sebanyak tujuh seri yang akan masuk dalam lelang tersebut dengan target indikatif Rp 23 triliun dan maksimal Rp 34,5 triliun.

Menanggapi hal itu, Ahmad memproyeksikan penawaran yang akan masuk tidak akan setinggi tahun 2022. Meski demikian, permintaan diproyeksikan masih tinggi dan kembali normal seperti prapandemi.

“Saya memperkirakan, secara rata-rata, lelang di pekan ini membukukan bid-to-cover ratio sekitar 1,2-2,6 kali,” kata dia.  

Adapun apabila secara nilai, dia memperkirakan penawaran yang masuk pada lelang kali ini berkisar Rp 27,6-59,8 triliun dengan total yang dimenangkan oleh pemerintah diproyeksikan sekitar Rp 25 triliun.

Soal investornya, domestik diproyeksikan masih mendominasi, setidaknya sekitar 85% dari total penawaran yang masuk. Tenor jangka pendek masih akan menjadi favorit, karena pasar masih mengantisipasi perkembangan terbaru di AS, terutama terkait dengan data inflasi dan juga antisipasi pertemuan the Fed pada Maret mendatang.

Sementara itu, ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mengatakan imbal hasil SUN akan tertekan oleh data neraca perdagangan Januari 2023 yang diproyeksikan menurun sejalan  dengan pelemahan harga komoditas. Di sisi lain, investor asing juga dikhawatirkan memindahkan investasinya, sejalan dengan membaiknya perekonomian Uni Eropa. Ini juga yang menjadi pemicu meningkatnya yield treasury UST.

“Imbal hasil SUN diperkirakan bergerak pada  6,6-6,9% pada pekan ini,” kata dia.  

Berbeda dengan Pefindo, Fikri memproyeksikan penawaran yang masuk dalam lelang SUN pekan ini mencapai Rp 50 triliun lebih. Hal ini terjadi seiring dengan permintaan perbankan yang masih kokoh, karena likuiditas masih besar.

“SUN tenor 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun akan menjadi seri yang menarik, karena ekspektasi dari terminal rate yang sudah semakin besar akan dimanfaatkan untuk mencari yield yang lebih bagus,” pungkas dia.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 49 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia