Minyak Turun Tipis Menanti Katalis Baru
JAKARTA, investor.id - Pada Jumat pagi ini, harga minyak terpantau mengalami koreksi turun tipis pasca rilisnya pernyataan Amerika Serikat (AS) terkait rencana pengurangan produksi Rusia. Meski demikian, penegasan sikap OPEC+, isyarat positif situasi di Tiongkok, serta potensi krisis baru di Irak memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Tim Research and Development ICDX mengatakan, AS melihat bahwa keputusan Rusia untuk memangkas produksi minyak sebesar 500 ribu bph merupakan cerminan ketidakmampuan Rusia untuk menjual minyaknya, kata Ben Harris, Asisten Sekretaris Departemen Keuangan AS, pada Kamis. Harris juga menambahkan bahwa tujuan embargo dan batas harga yang diterapkan saat ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar dan memangkas pendapatan Rusia, dan sekarang tujuan tersebut telah tercapai.
“Meski demikian, pasar masih menunggu kejelasan apakah Rusia benar-benar akan merealisasikan rencana pemangkasan output tersebut,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (17/2/2023).
Sementara itu, Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan bahwa kesepakatan OPEC+ saat ini mengenai produksi minyak akan dikunci hingga akhir tahun, meskipun ada sinyal positif peningkatan permintaan yang dipicu oleh pembukaan kembali ekonomi Tiongkok. OPEC dan sekutunya pada bulan Oktober lalu menyepakati untuk memangkas target produksi minyak sebesar 2 juta bph hingga akhir 2023.
“Penegasan komitmen OPEC+ tersebut mengindikasikan potensi pasokan di pasar akan tetap ketat,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menagtakan, turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, para pemimpin tertinggi Tiongkok mendeklarasikan kemenangan atas upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian Covid-19 sejak November 2022, yang membuat transisi mulus penanganan epidemi Covid-19 dalam waktu yang relatif singkat, ungkap Politburo Standing Committee (PSC) Tiongkok dalam sebuah pertemuan pada hari Kamis.
Meskipun saat ini masih terdapat hampir 800 ribu kasus parah yang sedang dalam perawatan, namun situasi epidemi terus membaik dan Tiongkok juga memiliki tingkat kematian terendah di dunia akibat Covid-19. “Berita tersebut semakin meningkatkan harapan pemulihan ekonomi, sekaligus potensi kembali meningkatnya permintaan di negara importir minyak terbesar pertama dunia tersebut,” jelas Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lainnya datang dari berita bahwa Irak berpotensi menghadapi krisis baru sehubungan dengan kembali munculnya ketegangan dengan para pemimpin Kurdi, kata Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani pada hari Kamis. Berita tersebut memicu kekhawatiran akan turut mempengaruhi arah kebijakan terkait minyak di negara produsen minyak terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi itu.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






