Multifinance Masih Beramai-ramai Emisi Surat Utang, Kupon Kompetitif
JAKARTA, investor.id – Penerbitan surat utang oleh perusahaan pembiayaan (multifinance) masih akan ramai, menyesuaikan kebutuhan diversifikasi pendanaan seiring ekspansi pembiayaan pada 2023. Selain itu, kupon yang ditawarkan masih kompetitif dan menarik.
Selama 2022, multifinance mencatat nilai penerbitan surat utang mencapai Rp 27,09 triliun, tumbuh 28,72% dibandingkan tahun 2021 sebesar Rp 21,04 triliun. Sedangkan piutang pembiayaan (outstanding loan) mencapai Rp 416 triliun, meningkat 14,18% dari Rp 364 triliun.
Penerbitan surat utang diyakini masih akan berlanjut seiring dengan ekspansi penyaluran pembiayaan multifinance pada tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan piutang pembiayaan multifinance tahun ini tumbuh 13-15%.
Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengatakan, secara umum, penerbitan obligasi akan menjadi pilihan multifinance. Tidak seperti bank, perusahaan multifinance tidak bisa mengumpulkan simpanan masyarakat.
Penerbitan surat utang rata-rata mencakup 25% kebutuhan pendanaan multifinance. Dengan ketergantungan semacam itu, pihaknya melihat pertumbuhan pembiayaan yang positif akan mendorong kebutuhan multifinance untuk menerbitkan surat utang.
"Tahun ini, saya memperkirakan kebutuhan multifinance untuk menerbitkan surat utang akan tetap positif. Kami mengharapkan pertumbuhan ekonomi akan terjaga," kata Ahmad kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Dia mengungkapkan, pengeluaran konsumen diharapkan akan tetap solid, seiring dengan perlambatan inflasi dan perbaikan dalam pasar tenaga kerja. Dengan begitu, permintaan terhadap pembiayaan konsumen pun akan ikut meningkat pada tahun ini.
Selain itu, kondisi kualitas pembiayaan yang membaik menjadi penting karena akan mempengaruhi penargetan pertumbuhan oleh multifinance. Rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) telah turun dari 3,53% pada 2021 menjadi 2,32% pada akhir 2022.
"Selama periode NPF tinggi, perusahaan pembiayaan biasanya lebih berhati-hati untuk memacu pertumbuhan. Mereka berusaha untuk menjaga kualitas mereka agar tidak memburuk," terang Ahmad.
Di sisi lain, kata dia, penerbitan surat utang multifinance juga masih baik untuk diserap pasar. Secara umum, kupon yang dibayarkan oleh perusahaan multifinance relatif kompetitif dibandingkan jasa keuangan lain seperti perbankan.
"Rata-rata untuk tenor favorit, 3 tahun dan 5 tahun, kupon mereka relatif mirip dengan yang ditawarkan oleh perbankan dengan peringkat yang sama. Kalau dari rata-rata penerbitan selama ini, multifinance biasanya menawarkan kupon yang lebih tinggi daripada perbankan untuk surat utang dengan peringkat dan tenor yang sama," ujar dia.
Secara terpisah, Vice Chairman of Executive Board PT Indomobil Finance Indonesia (Indomobil Finance) Gunawan Effendi mengungkapkan, perusahaan tentu melakukan diversifikasi pendanaan sesuai dengan karakteristik pembiayaan yang disalurkan. Adapun sumber dana Indomobil Finance terdiri atas pinjaman bilateral, pinjaman sindikasi offshore, penerbitan obligasi, dan modal sendiri.
Terbaru, perusahaan tengah memproses penerbitan obligasi PUB V tahap II yang ditawarkan dalam beberapa seri. "Saat ini, Indomobil Finance dibantu 8 underwriter akan memulai penerbitan obligasi PUB V tahap II dengan target penerbitan sebesar Rp 1 Triliun. Obligasi akan ditawarkan 3 seri, Seri A dengan tenor 370 hari, Seri B dengan tenor 3 tahun, dan Seri C dengan tenor 5 tahun," ungkap Gunawan.
Sementara itu, Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa mengatakan, pihaknya sedikitnya akan melakukan dua kali emisi surat utang tahun ini. Kali pertama akan dilakukan pada medio April mendatang. Untuk penerbitan surat utang kedua masih menunggu waktu yang tepat dengan menimbang situasi dan perkembangan pasar.
Dia menerangkan, Adira Finance menargetkan piutang pembiayaan menembus Rp 50 triliun pada tahun ini, bertambah sekitar Rp 6 triliun dari pencapaian pada 2022 sebesar Rp 44,6 triliun. Selisih itu akan ditambal dengan pembiayaan bersama joint financing (JF) dan penerbitan surat utang, dengan komposisi yang relatif seimbang.
Untuk itu, manajemen bakal meminta restu para pemegang saham untuk menerbitkan PUB baru dengan target dana keseluruhan mencapai Rp 10 triliun. "Jadi, obligasi konvensional Rp 9 triliun dan sukuk Rp 1 triliun. Tapi PUB ini akan di-execute kapan? Ini akan bertahap," pungkas Gani.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






