Jumat, 15 Mei 2026

Minyak Meredup Terbebani Potensi Perubahan Kebijakan OPEC+

Penulis : Indah Handayani
22 Feb 2023 | 11:01 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi soket pompa oli cetak 3D terlihat di depan logo OPEC. (FOTO: REUTERS/Dado Ruvic/File Photo)
Ilustrasi soket pompa oli cetak 3D terlihat di depan logo OPEC. (FOTO: REUTERS/Dado Ruvic/File Photo)

JAKARTA, investor.id - Harga minyak terpantau kembali meredup pada Rabu (22/2/2023). Terbebani sentimen dari meningkatnya potensi OPEC+ untuk mengubah kebijakan produksinya. Meski demikian, eskalasi tensi Rusia dengan AS, serta sinyal mulai berdampaknya aturan batas harga terhadap minyak Rusia memberikan dukungan pada harga minyak.

Tim Research and Development ICDX menjelaskan, Irak pada hari Selasa dilaporkan telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan UEA Crescent Petroleum dan dua perusahaan asal Tiongkok guna mengembangkan 6 ladang minyak dan gas.

“Berita tersebut meningkatkan keyakinan pasar bahwa OPEC+ berpotensi mengubah arah kebijakannya pada pertemuan berikutnya, terlebih Saudi sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa aliansi produsen itu cukup fleksibel untuk menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Rabu (22/2/2023).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Presiden Vladimir Putin pada hari Selasa menyampaikan peringatan ke Barat atas dukungannya terhadap Ukraina dengan menangguhkan partisipasi Rusia dalam pakta nuklir terbaru, START (Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis). Sebagai tanggapan, Presiden Joe Biden menegaskan akan tetap melanjutkan komitmen untuk mendukung Ukraina.

“Eskalasi tensi antara Rusia dengan pihak Barat memicu kekhawatiran akan mendorong konflik Ukraina semakin meluas,” tambah Tim Research and Development ICDX.

Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lain datang dari berita bahwa kilang milik negara India, Hindustan Petroleum Corp Ltd (HPCL) menemui masalah pembayaran atas pembelian minyak Rusia akibat aturan batasan harga yang diterapkan oleh negara Barat.

Sumber mengatakan, para pembeli minyak mentah Rusia ini memilih untuk tidak mengumumkan harga pembeliannya, dan itu mempersulit perusahaan untuk menemukan bank barat yang bersedia memproses pembayaran tersebut. Berita tersebut memicu kekhawatiran bahwa efek embargo dan batas harga mulai berdampak pada kestabilan pasar minyak global.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 74 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia