Minyak Meredup Terbebani Potensi Perubahan Kebijakan OPEC+
JAKARTA, investor.id - Harga minyak terpantau kembali meredup pada Rabu (22/2/2023). Terbebani sentimen dari meningkatnya potensi OPEC+ untuk mengubah kebijakan produksinya. Meski demikian, eskalasi tensi Rusia dengan AS, serta sinyal mulai berdampaknya aturan batas harga terhadap minyak Rusia memberikan dukungan pada harga minyak.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, Irak pada hari Selasa dilaporkan telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan UEA Crescent Petroleum dan dua perusahaan asal Tiongkok guna mengembangkan 6 ladang minyak dan gas.
“Berita tersebut meningkatkan keyakinan pasar bahwa OPEC+ berpotensi mengubah arah kebijakannya pada pertemuan berikutnya, terlebih Saudi sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa aliansi produsen itu cukup fleksibel untuk menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Rabu (22/2/2023).
Sementara itu, Presiden Vladimir Putin pada hari Selasa menyampaikan peringatan ke Barat atas dukungannya terhadap Ukraina dengan menangguhkan partisipasi Rusia dalam pakta nuklir terbaru, START (Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis). Sebagai tanggapan, Presiden Joe Biden menegaskan akan tetap melanjutkan komitmen untuk mendukung Ukraina.
“Eskalasi tensi antara Rusia dengan pihak Barat memicu kekhawatiran akan mendorong konflik Ukraina semakin meluas,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lain datang dari berita bahwa kilang milik negara India, Hindustan Petroleum Corp Ltd (HPCL) menemui masalah pembayaran atas pembelian minyak Rusia akibat aturan batasan harga yang diterapkan oleh negara Barat.
Baca Juga:
Meski Harga Minyak Diprediksi Turun, Saham Medco (MEDC) Justru Direvisi Naik, Bagini PenjelasannyaSumber mengatakan, para pembeli minyak mentah Rusia ini memilih untuk tidak mengumumkan harga pembeliannya, dan itu mempersulit perusahaan untuk menemukan bank barat yang bersedia memproses pembayaran tersebut. Berita tersebut memicu kekhawatiran bahwa efek embargo dan batas harga mulai berdampak pada kestabilan pasar minyak global.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 74 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






