Minyak Melandai Dipicu Beragam Sentimen
JAKARTA, investor.id - Harga minyak terpantau bergerak melandai pada Kamis pagi (2/3/2023). Dipicu oleh beragam sentimen di pasar. Keamanan Jalur Pelayaran Laut Hitam dan potensi peningkatan permintaan di India mendukung pergerakan harga minyak. Namun, laporan stok EIA dan isyarat peningkatan tensi AS dengan Tiongkok, membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, Rusia menegaskan tidak akan memperbarui kesepakatan ekspor biji-bijian via Laut Hitam yang akan berakhir pada 18 Maret, jika akses ke pasar global untuk ekspor produknya terutama produk pertanian dan pupuk masih diblokir, ungkap kementerian luar negeri Rusia pada hari Rabu. “Jalur pelayaran Laut Hitam merupakan akses utama yang memungkinkan biji-bijian diekspor dengan aman dari pelabuhan di Ukraina,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Kamis (2/3/2023).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut mendukung pergerakan harga, data dari sumber perdagangan di India yang dirilis hari Rabu menunjukkan bahwa output kilang pada bulan Januari mencapai 5.39 juta bph atau setara dengan 22.80 juta ton, tertinggi sejak 2009, karena peningkatan impor minyak dari Rusia. Data yang sama menunjukkan impor minyak mentah India dari Rusia pada bulan Februari naik ke level tertinggi enam bulan, sementara permintaan bahan bakar di negara importir minyak terbesar ketiga dunia itu diperkirakan akan tumbuh sebesar 4.7% pada tahun fiskal berikutnya yang dimulai pada 1 April mendatang.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX mengatakan, persediaan minyak mentah AS dalam sepekan melonjak naik sebesar 1.17 juta barel, jauh lebih besar dari prediksi awal yang memperkirakan stok akan naik sebesar 457 ribu barel, ungkap laporan yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik pemerintah Energy Information Administration (EIA) untuk pekan yang berakhir 24 Februari. “Kenaikan stok minyak mentah tersebut mengindikasikan permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS,” jelas Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menyebut, sentimen negatif lainnya datang dari AS yang dikabarkan sedang mencari dukungan dari berbagai negara, terutama di negara kelompok G7, guna menjatuhkan sanksi baru terhadap Tiongkok, apabila Beijing memberikan dukungan militer kepada Rusia dalam konflik Ukraina, ungkap 4 pejabat AS dan sumber lainnya yang dikutip oleh Reuters pada hari Rabu.
Potensi peningkatan tensi antara AS dan Tiongkok itu memicu kekhawatiran akan berdampak pada ekonomi global, terutama Tiongkok yang saat ini sedang dalam proses pemulihan pasca pembukaan kembali ekonomi pasca Covid. “Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 75 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






