Jumat, 15 Mei 2026

Tertinggi! Saham Pelita Teknologi (CHIP) Melesat 293,75% Sejak Listing Perdana

Penulis : Parluhutan Situmorang
3 Mar 2023 | 09:21 WIB
BAGIKAN
PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP). (Ilustrasi/Ist)
PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP). (Ilustrasi/Ist)

JAKARTA, Investor.id - Saham PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP), emiten produsen chip, telah melesat sebanyak 293,75% terhitung sejak listing perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Februari 2023. Bahkan, penguatan CHIP tertinggi, di antara 22 emiten yang listing hingga Maret 2023 ini.

Saham CHIP melesat dari harga IPO senilai Rp 160 menjadi Rp 635. Bahkan, Jumat (3/3/2023), saham yang dicatatkan di papan akselerasi ini kembali torehkan penguatan hingga auto reject atas (ARA) setelah menguat Rp 55 (9,48%) menjadi Rp 635. Bahkan, CHIP tercatat sebagai saham listing perdana tahun 2023 yang mencatatkan kenaikan tertinggi di antara 22 emiten yang masuk bursa hingga awal Maret 2023 ini.

CHIP sebelumnya telah menuntaskan penawaran umum (initial public offering/IPO) dengan melepas sebanyak 200 juta saham atau 24,81% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan nilai nominal Rp 10 per saham.

ADVERTISEMENT

Saham tersebut dilepas dengan harga pelaksanaan Rp 160 per saham sehingga, meraup dana segar Rp 32 miliar. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi Lotus Andalan Sekuritas. Saham CHIP listing di BEI pada 8 Februari.

Pemegang saham HALO sebelum IPO adalah Hansen sebanyak 99,99% dan Imelda Jin 0,01%. Hansen juga adalah pengendali sekaligus pemilik manfaat akhir perseroan. Dana dari IPO dan dari pelaksanaan waran seluruhnya akan digunakan untuk modal kerja.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Pelita Teknologi Global (CHIP) Hasri Zulkarnain mengatakan, perseroan tengah menyiapkan sejumlah aksi korporasi setelah menuntaskan IPO saham dengan raihan dana segar Rp 32 miliar.

Menurut dia, perseroan sudah mendapat customer di Afrika, sehingga bisa menambah prospek yang menarik untuk tahun 2023. Adapun rencananya di Afrika melalui Zambia Telecom, secara distribusi akan tetap dari Indonesia.

Pelita Teknologi optimistis untuk potensi pasar lainnya, dikarenakan vendor utama di dalam negeri adalah PT Indosar Ooredo Tbk (ISAT). “Kami juga berencana untuk menambah jaringan vendor, terutama di sektor perbankan kami sangat memiliki potensi. Jika kami sudah bisa mengerjakan di BCA, artinya bisa di bank lain juga,” tutur Hasri.

Dari lima operator telekomunikasi di Indonesia, kata Hasri, Pelita Teknologi baru masuk di dua operator yaitu Indonsat dan Hutchison. Dengan demikian, perseroan akan mencoba penetrasi pasar ke Telkomsel, XL Axiata, Smartfren dan perbankan, sehingga optimistis pengembangan akan terus berlanjut.

Pada Juli 2022, Pelita Teknologi membukukan pendapatan hingga Rp 56 miliar, sedangkan hingga Desember 2022 sekitar Rp 90- 100 miliar. Sedangkan target tahun 2023 setelah terlaksanakannya IPO, perseroan merencanakan peningkatan pendapatan 20%-30 % atau sekitar Rp 120 miliar. Sedangkan laba sampai Juli 2022 tercatat Rp 5- 6 miliar, adapaun hingga akhir tahun 2022 terctat Rp 8- 9 miliar. “Kami targetkan peningkatan laba bisa mencapai 10-20%,” imbuh Hasri.

Terkait ekspansi ke Afrika, Hasri menyebut, pihaknya sudah mendapatkan purchase order (PO) kurang lebih Rp 100- 200 miliar dan akan merealisasikannya. Selain itu, dana IPO untuk pemutaran dan penetrasi pasar di Indonesia yang masih potensial. Sedangkan target kontrak baru di tahun 2023 dengan kisaran Rp 100–200 miliar per satu operator.


 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia