Jumat, 15 Mei 2026

Usai Shopee, Giliran GOTO Rampingkan Kembali Organisasi, Begini Respons Analis

Penulis : Parluhutan Situmorang
10 Mar 2023 | 16:35 WIB
BAGIKAN
Manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Ist)
Manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Ist)

JAKARTA, Investor.id - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali merampingkan organisasi yang berdampak terhadap pengurangan jumlah karyawan. Dalam penjelasannya ke sejumlah media, Jumat (10/3), manajemen GoTo akan mengurangi sebanyak 600 karyawan dari berbagai unit bisnis. Jumlah tersebut lebih sedikit dari kebijakan serupa pada November tahun lalu sebanyak 1.300 karyawan.

Sehari sebelumnya, Shopee telah mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya di Indonesia. Platform e-commerce ini memang tidak menyebutkan secara spesifik jumlah karyawan yang terdampak, tapi banyak rumors menyebutkan angkanya berada di kisaran ratusan hingga di atas seribu orang.

Menariknya, kebijakan ini diumumkan setelah induk usaha Shopee Indonesia, Sea Ltd, baru merilis laporan keuangan dengan raihan laba kuartal IV-2022. Sea Ltd berbalik menjadi utung US$ 422,8 juta pada kuartal VI-2022, dibandingkan periode sama tahun 2021 dengan rugi bersih US$ 616,3 juta. 

ADVERTISEMENT

GoTo Group Corporate Secretary Koesoemohadiani mengatakan, menjelaskan, manajemen mengumumkan pembaruan strategi untuk membangun perusahaan yang berkelanjutan, menguntungkan, dan dapat terus memberikan dampak positif jangka panjang bagi jutaan orang.

“Dalam mencapai tujuan tersebut, kami melakukan kajian secara menyeluruh dan terus menerus, untuk menentukan peningkatan yang dapat dilakukan di setiap kegiatan bisnis,” katanya.

Dari kajian tersebut, kata Koesoemohadiani, manajemen telah mengidentifikasi sejumlah penyesuaian yang perlu dilakukan untuk memperkuat operasional perusahaan. Di antaranya, konsolidasi sejumlah bisnis dan tim dalam ekosistem, untuk menghadirkan organisasi yang lebih ramping serta lebih siap untuk menanggapi permintaan pasar. 

“Sebagai contoh, kami merestrukturisasi bisnis offline merchant di GoTo Financial dan menyatukan dua tim offline merchant. Penyesuaian seperti ini akan membantu perseroan untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada merchant, sekaligus mengurangi biaya,” katanya.

Konsolidasi dan sentralisasi beberapa fungsi penunjang bisnis akan menjadi shared resources atau sumber daya bersama, yang diharapkan mampu menghadirkan layanan berkualitas tinggi di seluruh ekosistem, sekaligus menghindari adanya duplikasi fungsi dalam unit bisnis.

Selain konsolidasi, Koesoemohadiani menambahkan, GoTo juga meninjau kembali prioritas dan akan mengurangi skala atau menunda kegiatan bisnis serta inisiatif yang bukan merupakan layanan inti.

“Contohnya, kami akan mengurangi beberapa bagian dari layanan Mitra Tokopedia, agar sumber daya perusahaan dapat difokuskan pada kegiatan yang akan mendorong dampak lebih besar,” katanya.

Di luar konsolidasi dan prioritasi, GOTO juga melakukan otomatisasi agar proses bisnis lebih efisien. Contoh di bisnis on demand service (ODS). Penggunaan teknologi di fungsi sales dan operations mengubah proses rekonsiliasi data dari manual menjadi otomatis. “Selain menjadi lebih cepat dan efisien, juga meningkatkan produktivitas. Adopsi teknologi tentu berimplikasi pada sejumlah posisi dan fungsi kerja,” katanya.

Respons Positif
Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Farras Farhan mengapresiasi kebijakan GOTO untuk mengevaluasi struktur organisasi dan bisnis proses secara berkala. Strategi ini diperlukan untuk mencari titik yang ideal, sehingga perusahaan bisa bertumbuh secara berkelanjutan. Pasalnya, sejak menjadi perusahaan terbuka (listed company), GOTO tidak bisa lagi menjalakan bisnis model layaknya perusahaan startup. GOTO harus fleksibel dan lebih adaptif terhadap perubahan kondisi.

“GoTo telah memasuki fase baru yaitu transisi dari growth ke profitability. Perubahan ini menuntut manajemen untuk lebih disiplin dalam hal operasional termasuk pengelolaan bisnis dan sumber daya yang lebih bijak untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berjangka panjang,” kata Farras.

Farras menambahkan, dengan jumlah karyawan yang ideal, GOTO bisa memangkas biaya operasional dan pada akhirnya mampu memperbaiki neraca keuangannya secara signifikan. “Tantangan GOTO adalah meyakinkan market bahwa peta jalan mempercepat profitabilitas bisa diwujudkan. Dan kami melihat komitmen manajemen mengurangi biaya bakar uang dan promosi tidak lah cukup. Selain meningkatkan revenue dan memangkas biaya promosi, GOTO juga mesti cermat berhitung biaya pegawainya,” katanya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia