Likuiditas Start-up Teknologi Disorot, GOTO Aman?
JAKARTA, investor.id – Posisi kas PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang masih tergolong kuat dinilai mampu menopang percepatan profitabilitas perusahaan ekosistem digital terbesar di Indonesia itu pada akhir 2023.
Research Analyst MNC Sekuritas Andrew Sebastian menyebutkan bahwa perkembangan kondisi ekonomi global saat ini berdampak pada persepsi publik terhadap operasional perusahaan teknologi, salah satunya GOTO.
“Akhir-akhir ini, peran likuiditas menjadi semakin penting. Era suku bunga tinggi yang dimulai tahun lalu telah meningkatkan risiko likuiditas bagi korporasi, terutama bagi perusahaan yang sangat bergantung pada pendanaan dari investor,” jelas Andrew dalam riset terbaru, yang dikutip pada Kamis (23/3/2023).
Baca Juga:
Bos GOTO Buka-bukaan Performa PerusahaanDia menegaskan, sejauh mana GOTO mampu mendanai operasionalnya hingga bisa meraih keuntungan saat likuiditas di pasar mengering menjadi salah satu kunci fundamental dan daya tarik bagi investor. Saat ini, GOTO dalam situasi positif.
Selain posisi kas yang solid, GOTO berhasil menekan biaya promosi dan pemasaran serta biaya operasional dan saat yang sama tetap mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan.
Hingga kuartal III-2022, GOTO telah mengimplementasikan penghematan yang terkait maupun tidak terkait dengan biaya personel senilai lebih dari Rp 1,1 triliun atau setara dengan penghematan 14%. “Cash burn atau ‘bakar uang’ bulanan juga turun dari Rp 1,6 triliun pada kuartal I-2022 menjadi Rp 1,3 triliun pada kuartal III-2022,” sebutnya.
Hasilnya, EBITDA disesuaikan GOTO makin membaik, dari minus 4,6% terhadap GTV pada kuartal IV-2021 menjadi minus 2,3% dari GTV pada kuartal III-2022.
Yang lebih penting, lanjut Andrew, adalah konsistensi kenaikan transaksi GOTO. Sebab setiap kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) dalam tingkat pengambilan (take-rate) keseluruhan, maka akan meningkatkan EBITDA disesuaikan GOTO sebesar Rp 1,8 triliun.
Dibandingkan dengan kompetitornya, yaitu Sea Group dan Grab, GOTO dinilai lebih memiliki kelebihan potensi tambahan likuiditas. Sebab menjadi satu-satunya yang belum begitu memanfaatkan potensi pendanaan melalui aksi korporasi berupa penerbitan efek di pasar modal.
Baru-baru ini, GOTO mengumumkan kinerja indikatif tahunan dan kuartal IV-2022. EBITDA yang disesuaikan tumbuh 52% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan bruto pada kuartal III-2022 tumbuh 19% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 6,3 triliun.
Direktur Utama Grup GoTo Andre Soelistyo menyampaikan, peningkatan kinerja pada kuartal keempat menegaskan kemajuan pesat dalam percepatan langkah menuju profitabilitas.
“Dengan mempertajam fokus untuk mendorong monetisasi bagi pelanggan setia, pertumbuhan pendapatan tetap tercapai di tengah implementasi strategi pengurangan insentif serta pemasaran produk,” paparnya dalam keterangan resmi.
Langkah tersebut, lanjutnya, beserta kedisiplinan dalam pengelolaan beban dan pendekatan layanan yang terukur, merupakan pendorong percepatan profitabilitas perseroan.
Lebih lanjut, selama dua bulan pertama tahun 2023, pihaknya melihat pertumbuhan yang lebih pesat. “Hal ini menegaskan kami berada di jalur yang tepat, untuk mencatatkan nilai positif EBITDA yang disesuaikan pada kuartal keempat 2023. Meski demikian, kami akan terus mempertahankan langkah percepatan hingga tercapainya tujuan tersebut,” ujarnya.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






