PP Presisi (PPRE) Raup Kontrak Baru Rp 1 Triliun, Mayoritas Jasa Pertambangan
JAKARTA, investor.id – Hingga Februari 2023, PT PP Presisi Tbk (PPRE) menggenggam kontrak baru senilai Rp 1 triliun. Kontrak baru tersebut didominasi oleh proyek jasa pertambangan.
Direktur Keuangan, Manrisk & Legal PP Presisi Arif Iswahyudi mengatakan, peluang di bisnis jasa pertambangan masih besar. Sebab itu, PP Presisi menargetkan total kontrak baru pada tahun ini mencapai Rp 6-7 triliun.
Dalam target baru tersebut, emiten berkode saham PPRE ini berharap lini jasa pertambangan dapat berkontribusi lebih dari 50%. Adapun pendapatan dan laba bersih pada 2023 diproyeksikan meningkat 20-25%.
Untuk itu, PP Presisi menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 400 miliar hingga Rp 500 miliar. "Pemenuhan capex ini akan bersumber dari penerbitan obligasi tahap II tahun 2023 yang masih dalam rancangan perseroan," kata Arif kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Perseroan diperkirakan dapat menghimpun dana Rp 750 miliar dari emisi obligasi. Dari jumlah tersebut, sebesar 70% di antaranya akan dialokasikan sebagai capex dan sisanya 30% sebagai KMK.
"Dana capex akan dipakai untuk meningkatkan kapasitas perusahaan dalam rangka memperkuat posisi PP Presisi atau PPRE di sektor jasa pertambangan," ujarnya.
Tahun lalu, PPRE berhasil membukukan kenaikan laba bersih hingga 23,7% menjadi Rp 182 miliar dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp 147 miliar.
Direktur Utama PP Presisi Rully Noviandar mengatakan, peningkatan laba bersih seiring peningkatan pendapatan sebesar 29,5% dari Rp 2,8 triliun pada 2021 menjadi Rp 3,6 triliun pada 2022.
Pertumbuhan pendapatan didukung oleh peningkatan pendapatan dari segmen jasa pertambangan, terutama proyek hauling road Weda Bay dan Hengjaya Mineralindo.
Adapun dari segi lini bisnis pekerjaan sipil yang turut menyumbang pendapatan, antara lain pengerjaan jalan tol Serang Panimban, pekerjaan tambah Bandara Kediri, saringan sampah Sungai Ciliwung, peningkatan jalan Empunala Mojokerto, serta beberapa kontrak lainnya.
“Pendapatan lainnya juga disumbang dari lini bisnis pendukung, di antaranya proyek data center BCA, proyek AEON Deltamas, proyek Sonic Camp Weda Bay, dan proyek lain-lain,” tuturnya.
Tahun lalu, PPRE meraup kontrak baru sebesar Rp 5,2 triliun. Mayoritas kontrak baru diperoleh dari jasa pertambangan sebesar 55%, pekerjaan sipil 41%, bisnis pendukung (production plant, structure work, dan rental equipment) 4%.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






