Akhir Maret, Pembiayaan BSI Tumbuh 20%
JAKARTA, investor.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencatatkan pembiayaan tumbuh 20% hingga akhir Maret 2023. Pertumbuhan ini diyakini masih akan berlangsung hingga paruh pertama tahun ini.
Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan, pembiayaan BSI di tahun 2022 melesat 21% atau tertinggi di antara 10 bank terbesar. Pihaknya bersyukur, pertumbuhan tersebut masih berlanjut di awal tahun ini.
"Kita belum closing, tapi loan growth kita sekitar dua digit, sekitar 20% itu BSI masih tercapai (di akhir Maret). Memang sepanjang tahun lalu kita tumbuh 21%, tahun ini kita perkirakan di bawah itu atau sekitar 15-17%, tapi kalau situasinya bisa terus kondusif, kita bisa di angka tahun lalu," ungkap Cahyo di sela acara Ramadan Insight bertajuk Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Mendorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah, di Jakarta, Kamis (30/3/2023).
Cahyo mengatakan, pembiayaan di sektor konsumer juga masih jadi pendorong pencapaian sampai saat ini. Hal ini tidak terlepas dari mulai pulihnya perekonomian Indonesia dari pandemi, sehingga permintaan pembiayaan konsumer mulai bergeliat.
"Nah, disitulah alasan BSI selama 2 tahun ini juga fokus masuk ke segmen konsumer. Demand-nya masih sangat bagus sampai dengan kuartal I-2023 dan kita perkirakan sampai dengan semester I-2022 kita masih optimis untuk demand pembiayaan," jelas Cahyo.
Selain itu, dia mengatakan, ruang BSI tumbuh masih sangat besar, mengingat penetrasi ekonomi dan keuangan syariah masih relatif kecil. Di sisi lain, perusahaan juga punya pangsa pasar khusus seperti nasabah payroll yang belum digarap secara optimal.
Di tahun 2022, pembiayaan BSI melesat 21,26% year on year (yoy) menjadi Rp 207,7 triliun. Komposisi pembiayaan dicatatkan untuk segmen konsumer sebesar Rp 106,40 triliun, tumbuh 25,94% (yoy). Selain itu, pembiayaan wholesale sebesar Rp 57,18 triliun atau tumbuh 15,80% (yoy) dan pembiayaan mikro yang mencapai Rp 18,74 triliun, tumbuh 32,71% secara yoy.
Kualitas pembiayaan pun dapat dijaga dalam rentang moderat, dimana non performing financing (NPF) relatif menurun dari level 2,93% menjadi 2,42%. Sedangkan pencadangan yang digambarkan lewat NPF Coverage naik dari 148,87% menjadi 183,12%.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) dibukukan BSI tumbuh 12,11% (yoy) menjadi Rp 261,49 triliun pada 2022 ikut serta mendukung profitabilitas perusahaan. Jika diurai, giro tumbuh sebesar 29,53% (yoy) menjadi Rp 44,52 triliun, tabungan menjadi sebesar Rp 116,48 triliun, dan deposito sebesar 100,48 triliun naik tipis 2,34%.
Dengan komposisi demikian, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp 4,26 triliun, tumbuh 40,68% secara tahunan (yoy) pada tahun 2022. Diikuti aset mencapai Rp 305,73 triliun, tumbuh 15,24% (yoy).
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






