Jumat, 15 Mei 2026

Berkat Merger, BSI Mampu Penetrasi Pasar Lebih Masif

Penulis : Prisma Ardianto
30 Mar 2023 | 23:10 WIB
BAGIKAN
Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho di sela acara Ramadan Insight bertajuk Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Mendorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah, di Jakarta, Kamis (30/3/2023). (B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)
Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho di sela acara Ramadan Insight bertajuk Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Mendorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah, di Jakarta, Kamis (30/3/2023). (B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI menyatakan bahwa penggabungan entitas usaha (merger) menjadi langkah penting untuk suatu bank syariah meningkatkan skala usaha. Dengan kapasitas tersebut, perusahaan pada akhirnya bisa melakukan inovasi lebih untuk semakin masif melakukan penetrasi pasar.

Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan, karakter fundamental muslim Indonesia menginginkan layanan bank syariah yang sama bagusnya dengan bank konvensional. Untuk mencapai level tersebut, bank syariah perlu terus berinovasi, dimana salah satunya adalah dengan meramu harga (pricing) yang lebih mudah.

"Sebelumnya tidak ada pricing bank syariah yang mampu berkompetisi dengan BCA dari sisi KPR. Nah, kemarin BSI mencoba untuk menyamakan harga KPR dengan BCA, dengan menekan profitabilitas kami. Itu demand-nya luar biasa besar," ungkap Cahyo di sela acara Ramadan Insight bertajuk ‘Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Mendorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah’, di Jakarta, Kamis (30/3/2023).

ADVERTISEMENT

Melihat fenomena tersebut, maka salah satu hal terpenting bagi bank syariah demi menggaet minat masyarakat yakni dengan menawarkan harga yang kompetitif. Namun tentunya langkah ini tidak bisa lepas dari skala bank yang sudah selayaknya ditingkatkan.

"Jadi perlu kemampuan yang sama baiknya dengan layanan bank konvensional. Itu saja rasanya bisa membawa kita ke level yang mungkin dua kali lipat dari sekarang. Tapi memang perlu langkah-langkah seperti merger," jelas dia.

Sayangnya, menurut dia, bank syariah nasional lainnya punya gap cukup jauh dengan BSI, baik dari sisi aset maupun jaringan. Sehingga sulit untuk mereka melakukan inovasi untuk bersaing dengan bank besar. "Memang langkah-langkah aksi korporasi seperti merger, konsolidasi, akuisisi di industri itu menjadi penting. Dari kami, konsolidasi yang bisa memberikan skala menjadi penting," imbuh Cahyo.

Lebih lanjut Cahyo mengatakan, skala bank syariah yang relatif rendah membuat penetrasi yang dilakukan ikut tertinggal. Berbeda dengan Malaysia, bank syariah di sana sudah lebih modern dan punya skala yang jauh lebih baik.

Dalam realisasi menghadirkan harga yang lebih murah, BSI telah berhasil menekan sejumlah indikator keuangan penting sejak merger. Biaya kredit (cost of credit/CoF) turun dari 2,6% pada 2020 menjadi 2,36% pada 2021 dan kembali menurun pada 2022 menjadi 1,97%.

Jaringan dan Digitalisasi

Dalam hal ini, BSI terbilang beruntung. Setelah merger, perusahaan menjadi bank ke-5 yang memiliki lebih dari 1.000 jaringan. Sebelumnya, hanya BCA, BRI, Mandiri, dan BNI yang punya jaringan lebih dari itu, sehingga mampu melakukan penetrasi pasar dengan optimal.

Jaringan tersebut menjadi penting mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan. Dengan jaringan luas itu juga BSI mampu menggenjot literasi dan inklusi keuangan syariah. Hal ini yang dideteksi menjadi salah satu persoalan di sektor perbankan syariah.

"Masalah utama kita, tidak ada bank syariah yang punya skala besar. Bank Syariah Mandiri saat itu (sebelum merger) cukup besar tapi jaringannya cuma 400-500 saja, tidak cukup berkompetisi dengan bank konvensional. Kami berterima kasih sekali kepada OJK sebagai regulator dan pemerintah yang memaksa merger ini terjadi," kata Cahyo.

Dia berharap, langkah ini dapat diikuti bank-bank syariah lainnya demi menghadirkan entitas bank syariah besar untuk mampu bersaing dengan bank konvensional. "Karena ini tidak hanya bisa dilakukan oleh BSI sendiri," beber Cahyo.

Lebih lanjut, Cahyo menerangkan bahwa preferensi nasabah bank untuk bertransaksi mulai beralih ke digital. Saat ini hanya tersisa 3% dari hampir 18 juta nasabah yang melakukan transaksi di cabang.

"Nah, kecepatan kita dalam digitalisasi juga menjadi kunci, nah kita lihat ada tanda-tanda positif bagaimana industri perbankan sangat lincah menghadapi digitalisasi, sehingga kita merasa sangat semangat," ujar Cahyo.

Imbasnya bagi bank, kata dia, pihaknya relatif tidak menambah sumber daya manusia (SDM) yang banyak. Sebaliknya, bank bisa dengan cepat mengakuisisi nasabah melalui pemanfaatan teknologi. Potensi besar dihadirkan melalui layanan digital, seiring dengan 80% penduduk Indonesia yang telah adopsi digital.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia