Kamis, 14 Mei 2026

Meski Masih Rugi, Kinerja Blibli (BELI) Tumbuh di Atas Tren Industri

Penulis : Jauhari Mahardhika
1 Apr 2023 | 23:01 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Blibli (BELI). (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Blibli (BELI). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id – PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli membukukan kinerja yang cukup apik pada 2022. Pendapatan bersih konsolidasi naik 72% dari Rp 8,9 triliun pada 2021 menjadi Rp 15,3 triliun pada 2022.

“Sepanjang tahun 2022, kami melihat seluruh segmen bisnis kami bertumbuh cukup pesat di atas tren industri, disertai dengan kinerja keuangan yang lebih sehat,” kata Hendry, CFO & Co-Founder Blibli, dalam keterangannya, Sabtu (1/4/2023).

Emiten teknologi yang resmi melantai pada kuartal terakhir 2022 ini fokus pada empat segmen bisnis dalam operasionalnya yaitu segmen ritel 1P, ritel 3P, institusi, dan toko fisik.

ADVERTISEMENT

Segmen ritel 1P menjadi generator pendapatan bersih terbesar bisnis Blibli. Segmen ritel 1P merupakan model bisnis B2C dan bermitra dengan layanan pihak pertama. Dari segmen ini, Blibli membukukan Rp 8,9 triliun pada tahun 2022, naik 32% dari tahun 2021.

Dari ritel 3P yang merupakan layanan oleh penjual pihak ketiga dan platform online travel agent, Blibli meraup pendapatan bersih sebesar Rp 199 miliar pada tahun 2022, 63% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Sedangkan dari segmen institusi, pendapatan bertumbuh 137% year on year (yoy) menjadi Rp 2,6 triliun. Yang terakhir adalah segmen toko fisik yang melonjak drastis sebesar 298% (yoy) dari Rp 892 miliar pada 2021 menjadi Rp 3,5 triliun pada 2022.

Pencapaian tersebut didukung dari masifnya ekspansi gerai fisik consumer electronics yang dilakukan Blibli sepanjang tahun 2022, termasuk pengonsolidasian anak usahanya, PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), yang merupakan operator supermarket premium, seperti Ranch Market dan Farmers Market.

Emiten berkode saham BELI ini masih mencatatkan rugi usaha sebesar Rp 5,01 triliun sepanjang 2022. Kendati merugi, emiten besutan Grup Djarum ini berhasil menciptakan tren positif dengan pengelolaan struktur biaya yang lebih baik.

Persentase EBITDA konsolidasi terhadap TPV Blibli bergerak dari -10,4% pada 2021 menjadi -7,8% pada 2022, meningkat sebesar 260 bps (yoy).

Blibli menyebutkan perbaikan tersebut didorong oleh kinerja operasional yang lebih baik seperti penurunan persentase beban iklan & pemasaran terhadap TPV dari 3,6% pada tahun 2021 menjadi 2,8% pada tahun 2022.

Nilai beban umum dan administrasi, yang sebagian besar terdiri dari gaji, tunjangan, pengembangan, dan imbalan kerja, jika dibandingkan TPV juga mengalami perbaikan dari 7,8% di tahun 2021 menjadi 5,5% di tahun 2022. Sebagai catatan, Blibli juga berkomitmen tidak melakukan pengurangan pegawai di tengah tren PHK yang dilakukan perusahaan sejenis.

Untuk terus memperbaiki kinerja, Blibli menyebutkan akan fokus mengembangkan dan memperkuat berbagai sinergi potensial di dalam ekosistem untuk mendorong penjualan silang (cross-selling) antar platform, serta memperkuat strategi omnichannel melalui ekspansi toko-toko fisik.

Sebagai jalan menuju profitabilitas, Blibli (BELI) berpegang pada kepemimpinan biaya (cost leadership), optimalisasi margin (margin optimization) dan keunggulan operasional ekosistem (ecosystem operational excellence).

“Kami berada pada jalur yang tepat untuk mengembangkan bisnis kami lebih jauh dan pada saat bersamaan, semakin mendekatkan kami pada profitabilitas,” pungkas Hendry.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 15 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 33 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia