Kamis, 14 Mei 2026

Perbaikan Kinerja GOTO Dikebut, Sahamnya Bisa Ngacir Lagi?

Penulis : Ely Rahmawati
7 Apr 2023 | 15:02 WIB
BAGIKAN
Driver Gojek, bagian dari Grup GOTO. (Foto: Dok. GOTO)
Driver Gojek, bagian dari Grup GOTO. (Foto: Dok. GOTO)

JAKARTA, investor.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menargetkan pencapaian profitabilitas dan EBITDA yang disesuaikan secara positif pada kuartal IV-2023. Strategi yang diterapkan antara lain meningkatkan monetisasi, mengoptimalkan biaya, dan mengembangkan produk berbasis ekosistem.

“Untuk memaksimalkan monetisasi, kami memperkirakan GOTO akan meningkatkan tingkat pengambilan sebesar 30 bps per tahun hingga 2025. Peningkatan take rate dilakukan dengan penyesuaian tarif segmen on-demand dan kenaikan biaya platform segmen on-demand dan e-commerce, serta integrasi ekosistem digital,” tulis analis MNC Sekuritas Andrew Sebastian Susilo dalam risetnya.

Andrew mengungkapkan, GOTO juga berniat mengembangkan produk berbasis ekosistemnya dengan mengembangkan produk baru seperti GoPayLater Cicil dengan margin yang tinggi.

ADVERTISEMENT

Selain itu, perusahaan diuntungkan dengan memiliki portofolio komprehensif dalam ekosistem digital, yang selanjutnya dapat meningkatkan monetisasi sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan yang cukup tinggi dibandingkan perusahaan sejenis.

“Likuiditas GOTO tidak boleh diremehkan. GOTO secara umum dipandang memiliki landasan kas terpendek hingga kecukupan 7 kuartal untuk mendanai operasi mereka. Meskipun demikian, kemampuan GOTO untuk memaksimalkan pendanaan melalui instrumen ekuitas lebih unggul mengingat lingkungan yang tidak bersahabat akhir-akhir ini,” sebut Andrew.

Dia menyebut, GOTO berhasil mencatatkan rasio gearing terendah. Faktanya, Sea telah menerima pendanaan melalui pembiayaan ekuitas dan utang, dengan 60% dari US$ 16 miliar yang diperoleh dalam lima tahun terakhir berasal dari nota konversi.

Sementara itu, Grab sebagian besar didanai melalui ekuitas, tetapi pada kuartal I-2021, Grab menerbitkan obligasi non-konversi senilai US$ 2 miliar dan membeli kembali sekitar US$ 850 juta. Dalam layanan bank digital, GOTO adalah pionirnya dengan memiliki 21,4% saham ARTO. Sedangkan Sea memiliki Seabank, dan Grab memiliki Bank Fama setelah bekerja sama dengan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

“Namun, secara permodalan, Seabank dan Bank Fama masih tergolong kecil dan dikategorikan sebagai bank KBMI I, berbeda dengan Bank Jago yang dikategorikan sebagai KBMI II,” jelas Andrew.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 13 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 30 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia